Universitas Gunadarma

Sabtu, 17 Januari 2015

Luka Tetaplah Luka

Di sebuah pantai yang di sambut dengan derasnya hujan, ada gadis yang sedang duduk penuh resah sambil memandangi hujan. “Rena” kata laki-laki yang dikenalnya. Rena gadis yang mempunyai senyuman manis itu menoleh ke arah suara itu. Suara yang sangat dikenalnya. Dia disana, Dante berdiri dengan tubuhnya yang basah kuyup. Celana, jaket dan kausnya basah.
Rena berdiri dan langsung berlari ke arah Dante. Kemudian, Rena memeluk laki-laki itu dan tiba-tiba Dante terkejut, tapi kali ini Dante tidak membuang muka dengan berpura-pura. Dante pun langsung menanyakan kalimat “Apa kamu baik-baik saja Rena?” atau “Kamu kenapa Rena?” Rena pun menjawab “Tidak, aku hanya sedikit terluka Dante” jawabnya dengan memeluk Dante dengan erat, karena Dante juga terluka. Dante hanya membiarkan emosinya lepas, kali ini, dan mungkin hanya kali ini. Dante membiarkan keegoisan menguasai dirinya. Perlahan-lahan tangannya bergerak memeluk tubuh Rena.
Di tepi pantai yang diguyur hujan, berdiri dua orang yang tengah terluka. Bukan luka fisik, melainkan luka hati. Mungkinkah luka mereka disebabkan oleh hal yang berbeda. Tapi, luka tetaplah luka. Rasanya akan selalu menyakitkan, bagi siapapun yang merasakannya. Perasaan mereka, ketakutan, kegelisahan, kekhawatiran, kesedihan yang mereka alami, beban yang mereka tanggung selama bertahun-tahun. Mereka melepaskannya lewat sebuah pelukan.

Segala perasaan itu, segalanya, melebur. Kemudian, bersatu dengan air hujan lalu terbawa ke lautan.

Rynhrd~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar