Universitas Gunadarma

Sabtu, 17 Januari 2015

Bunga

“Bunga, maukah kamu jadi pacarku?”

Aku tersedak saat aku sedang meminum milkshake strawberry yang baru saja ku pesan, pada saat itu juga ada seseorang yang dengan lantang menyatakan perasaannya padaku di depan seluruh penghuni kantin itu. Mau tidak mau meja ku menjadi sorotan mata seluruh penghuni kantin, termasuk ibu dan bapak kantin. Dia Alvin, kakak kelasku yang merupakan idola para perempuan di sekolah. Ganteng, kaya dan popular adalah julukan yang pantas untuknya, terlebih dia juga merupakan kapten team basket. Ah,perempuan mana sih yang tak ingin menjadi pacarnya. 

“Jadi, bagaimana jawabanmu?” kak Alvin kembali menanyakan pertanyaannya kepadaku, dia masih tetap berlutut disamping meja makanku sambil memegang bunga mawar ditangannya. Aku terdiam, kaget bukan main kenapa tiba-tiba kak Alvin menembakku. Memang sudah dua minggu ini aku sering chatting dengannya, itu juga karena awalnya dia ingin mengembalikan buku tulisku yang terjatuh di dekat lapangan olahraga tempo hari. Tetapi aku tidak pernah berpikiran akan di tembak seperti ini, di depan umum pula.
“Em, kak Alvin..” jawabku menggantung. Aku melihat sekelilingku, mereka terlihat seperti menunggu jawabanku. Ada yang menantikanku menerimanya, ada yang patah hati yang sembilan puluh persen adalah perempuan penggemar beratnya kak Alvin, ada juga yang tak peduli dan tetap asik melahap makanannya.
“Iya, aku mau.” Tak peduli seberapa banyak bulatan merah di pipiku, yang jelas saat ini aku senang.
---
“Happy Anniversary sayang. I love you”  
Sudah dua bulan aku menjalani hubungan dengan kak Alvin, malam ini dia mengajakku makan di salah satu restoran yang memang suasananya sangat romantis. Terlebih perlakuan yang diberikannya juga manis sekali. Sungguh kak Alvin benar-benar orang yang romantis. Aku sayang dia.
---
“Iya Rin, pokoknya kemarin malam aku senang sekali kak Alvin memperlakukanku seperti itu. Kalau kamu lihat pasti kamu iri deh sama aku” celotehku yang sedari tadi menceritakan kejadian semalam pada sahabatku Karin.
“Wah, selamat ya aku ikut senang. Langgeng yah kamu sama kak Alvin” sambil tersenyum kikuk.
“Hahaha, makasih ya sahabatkuuu” 

Hari ini aku tidak pulang bersama kak Alvin, dia sedang ada urusan katanya. Aku juga berniat mengajak Karin main, tetapi dia bilang dia ingin membantu ibu nya dirumah. Malas sekali rasanya pulang kerumah,, akhirnya aku memutuskan pergi ke salah satu pusat perbelanjaan. 

“Mba pesan jus strawberry nya ya 1” ucapku pada seorang pelayan di mall tersebut, sudah hampir satu jam aku memutari mall itu, tapi hanya satu barang saja yang ku beli. Itu juga untuk kak Alvin.
“Baik, ada lagi yang ingin di pesan?”
“Itu saja mba” ucapku sambil tersenyum ramah. Kemudian pelayan tersebut mengangguk dan kembali ke tempatnya.

Aku mengetuk-ngetukan jariku di meja, bosan juga ternyata tidak ada teman ngobrol. Aku mengambil ponsel di saku seragamku. Mengecek barangkali ada pesan masuk dari kak Alvin, ternyata tidak ada. Mungkin dia memang benar-benar lagi sibuk dengan urusannya, pikirku. Aku memasukan kembali ponselku ke dalam saku, kemudian mataku menyusuri seisi restoran mencari hiburan atau menyegarkan mata agar tidak terlalu bosan. Dan mataku terhenti pada seseorang yang duduknya agak jauh dari tempat duduk ku. Tapi aku masih dapat melihat jelas wajah seseorang itu, bahkan aku sangat mengenali dia itu siapa. Dia kak Alvin. Tapi kak Alvin tidak sendiri, dia berdua bersama seorang..perempuan. Aku tidak bisa melihat wajah perempuan itu, karena dia duduk membelakangiku. Entah mengapa air mataku jatuh begitu saja. Tapi tunggu, aku seperti mengenali postur tubuh perempuan itu dari belakang, rambutnya juga. Dan yang membuatku tambah yakin adalah....cardigannya, iya cardigan yang dikenakannya itu sama percis dengan cardigan yang dikenakan Karin tadi. Iya, dia memang Karin.
“Permisi mba, ini pesanannya. Maaf ada yang bisa saya bantu lagi mba?” pandangan ku beralih pada pelayan yang mengantarkan pesananku tadi. Dia bertanya dengan hati-hati karena takut menggangguku yang sekarang sedang menangis. Aku tersenyum dan menyeka air mata yang terjatuh di pipiku. “Tidak terimakasih.” Kemudian pelayan itu pergi.

Aku mengalihkan pandanganku lagi pada dua sosok yang sangat kukenali itu, terlihat tangan kak Alvin menggenggam lembut tangan sahabatku itu. Sebenarnya ini ada apa? Padahal baru kemarin aku diperlakukan manis oleh kak Alvin, dan baru tadi pagi aku menceritakan kejadian semalam pada Karin. Sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka,  kenapa mereka tega membohongiku? Dan kenapa aku merasa...dikhianati.
---
Hari ini aku berangkat sekolah lebih awal, dengan alasan ingin menghindari kak Alvin. Padahal terlihat jelas di wajahku bahwa aku sedang malas bersekolah. Kepalaku sedikit pusing, karena aku menangis semalaman. Tapi mataku tidak terlalu kelihatan sembab, karena tadi subuh aku mengompresnya dengan air hangat. Sampai akhirnya aku memasuki kelas, seseorang tersenyum dan menyapa ku.

“Haiiii Bunga, tumben dateng pagian nih” senang, pagi ini dia terlihat begitu senang.
“Gapapa lagi pengen aja, seneng banget nih kayaknya. Ada apa?” aku hanya bertanya sambil tersenyum tipis.
“Hahaha masasih? Engga ah biasa aja kali. Btw lesu banget sih neng”
“Lagi gaenak badan aja. Oh iya kemarin kamu kemana?”
“Ha? Hm, kan aku udah bilang mau bantu mama dirumah”  dia terlihat kikuk saat menjawab pertanyaanku, tapi aku mengabaikannya dan langsung menduduki bangku sambil menidurkan kepalaku diatas meja “Oh iya aku lupa”

Aku di perintah oleh guru fisika untuk membawa buku-buku tebal ini ke ruangannya, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundak ku.
“Hei, kamu kok tadi berangkat duluan? Ga hubungin aku lagi, kamu kenapa?” seorang laki-laki yang kemarin jalan dengan sahabatku sendiri.
“Iya kak maaf aku ga sempet sms, tadi ada urusan mendadak aja jadi aku harus dateng pagi-pagi”
“Oh gitu, kirain kenapa hehe” Hanya itu? Hah. Dia pun tidak ada niat sedikit pun untuk sekedar minta maaf karena kemarin sama sekali tidak memberiku kabar.
“Oh iya kak, kemarin sibuk banget ya urusannya? Sampe lupa ngasih kabar gitu hehe”
“Oh.. itu.. iya aku sibuk banget soalnya abis ada acara keluarga hehe. Maaf ya aku jadi lupa ngabarin kamu, kamu ga marah kan sayang?” Saudara? Sejak kapan Karin saudaraan sama kak Alvin ha-ha. Tak ingin berlama-lama dengannya aku pun segera pergi ke ruang guru “Kak aku duluan ya, ditunggu sama bu Hani nih” aku menyunggingkan senyum tipis kepadanya yang dibalas usapan kepala olehnya.
---
“Tega ya kamu rin sama aku, aku fikir kamu sahabat baik aku tapi ternyata kamu malah nusuk aku dari belakang” bulir-bulir air mata sukses menghiasi pipiku saat aku mengambil selembar foto yang terjatuh dari tas nya Karin. Foto seperti sepasang kekasih yang terlihat bahagia. Siapa lagi kalo bukan foto dia dengan kak Alvin.
“Engga bunga, jangan salah paham dulu. Aku enggak--“
“Enggak apa? Kamu mau bilang kalo foto ini ga sengaja ha? Udahlah rin, kamu fikir aku gatau kalau dua hari yang lalu kamu jalan sama kak Alvin? Kamu jahat rin sama aku”
“Iya emang aku jalan sama kak Alvin, terus kenapa? Emang cuma kamu doang yang bisa ngerasain seneng? Aku benci sama kamu, kamu selalu bisa dapetin apa yang aku mau. Kamu selalu bisa nyuri perhatian guru-guru ataupun temen-temen, kamu selalu menjadi juara kelas bahkan kebanggaan sekolah, kamu disenangi para cowo-cowo disini, dan asal kamu tau ya aku udah suka sama kak Alvin jauh sebelum kamu jadian sama dia. Aku cuma mau kak Alvin, apa aku salah? Dan kalau kamu tau, aku udah seminggu backstreet sama dia” Jleb! Semua perkataan yang diucapkan Karin benar-benar membuat hatiku mencelos. Aku menangis, sakit hati. Dan aku juga melihat dia...menangis.

“Ga nyangka ya, aku fikir kamu adalah satu-satunya teman terbaikku tapi ternyata kaya gitu. Kamu cuma nganggep aku saingan kamu aja? Kamu cuma pengen dapetin apa yang aku punya? Padahal aku tulus banget sahabatan sama kamu. Dan kalau aku bisa juga, aku akan kasih semua yang aku punya buat kamu kalau itu buat kamu seneng” kemudian aku membisikan telinganya “Terakhir, kenapa ga dari awal kamu bilang kalau kamu suka Alvin. Kalau aku tau kamu suka sama dia pasti aku ga akan nerima dia jadi pacarku. Karena aku gapernah mau liat sahabatku sendiri sakit hati” aku menjauhkan bibirku dari telinganya, kemudian tersenyum sambil menyeka air mata. Lalu pergi. Dia terdiam dan semakin menangis.

Aku berlari keluar kelas sambil menangis, tidak menyangka ternyata orang yang aku sayangi keduanya tega mengkhianatiku. Aku menghentikan langkah kaki ku. Aku benar-benar sakit hati. Kemudian seseorang memanggilku. Suara itu, aku kenal suara itu. Rasanya aku ingin sekali pergi dari tempat ini sekarang juga. 

“Bunga, kamu kenapa nangis? Kamu ada masalah? Atau kamu lagi sakit?” kak Alvin memegang pundak ku dari belakang kemudian memutar tubuhku agar aku berhadapan dengannya. Aku menghela nafas panjang.
“Aku gapapa kok kak, ohiya aku pengen ngomong sesuatu sama kaka”
“Ngomong apa? Kita duduk disana yuk, biar kamu ga cape berdiri terus” kak Alvin menunjuk bangku dekat lapangan basket.
“Gausah kak, aku ga lama kok. Aku cuma mau bilang, makasih ya kak Alvin selama dua bulan ini udah mau sayang sama aku”
“Loh iya sayang sama-sama tapi kok tumben banget kamu ngomong kaya gini, ada apa?”
“Gapapa, aku mau minta putus ya kak aku pikir buat apa kita lanjutin hubungan kita kalau kak Alvin aja udah punya cewe lain selain aku” ucapku tersenyum, mataku berkaca-kaca lagi.
“Jadi..kamu u..dah tau?” ucapnya kaget. “Maaf, aku ga bermaksud mau nyakitin kamu” lanjutmya sambil menggenggam tanganku. Aku melepaskan genggamannya perlahan kemudian membuka resleting tas ku dan mengambil sesuatu.
“Ga bermaksud nyakitin tapi kenyataannya sekarang aku sakit” lalu aku menyerahkan sesuatu yang baru saja ku ambil dari tas. “Ini buat kaka, dua hari yang lalu aku jalan dan aku liat barang ini. Terus aku inget kak Alvin mangkanya aku beli ini buat kaka” kak Alvin mengambil barang itu dari tanganku. “Oh iya, aku juga liat kaka sama Karin waktu itu, mesra banget” lagi-lagi aku memamerkan senyumku padanya. Senyum menyedihkan.
“Aku bisa jelasin semuanya kok, kamu jangan salah paham dulu. Aku gamau putus sama kamu, please kasih aku kesempatan” dia memelukku, akhirnya air mata yang dari tadi ku bendung jatuh juga. Aku menghela nafas lagi, kemudian melepaskan pelukannya.
“Maaf kak aku gabisa, semoga kakak langgeng sama Karin. Dan aku akan berusaha ikhlasin kakak buat dia. Aku pulang dulu ya” aku menatap matanya yang sedari tadi menatapku. Terlihat penyesalan diwajahnya, tetapi mau bagaimana lagi aku benar-benar ingin memutuskan hubunganku dengannya.
“Aku sayang banget sama kakak. Makasih juga kakak udah bisa bikin hati aku sakit kaya gini” kemudian aku berlari dengan berlinang air mata, tak peduli seberapa keras dia memanggil-manggil namaku ataupun dengan cepat mengejarku. Yang jelas aku ingin cepat-cepat hilang dari hadapannya.
---
Alvin memandangi barang yang diberikan oleh Bunga tadi siang, sebuah boneka beruang yang sedang memegang bola basket ditengahnya. Kemudian didalam perut boneka itu ada sebuah tombol yang bila dipencet keluar rekaman suara orang. Alvin berkali-kali memencet boneka itu “Hallo kak alvin ganteng, I love You” begitulah isi rekaman suara Bunga. Dia mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Baru menyesali kenapa dia tega mengkhianati hati ‘mantan’ kekasihnya itu. Padahal sedikitpun tidak pernah gadisnya itu melukai hatinya. Memang penyesalan selalu dating belakangan, dan saat ini dia benar-benar menyesal karena telah menyia-nyiakan gadis kecilnya itu.

by: Rexa~
#Cerpen


Tidak ada komentar:

Posting Komentar