“Bunga, maukah kamu jadi pacarku?”
Aku tersedak saat aku sedang meminum
milkshake strawberry
yang baru saja ku pesan, pada saat itu juga ada seseorang yang dengan lantang
menyatakan perasaannya padaku di depan seluruh penghuni kantin itu. Mau tidak
mau meja ku menjadi sorotan mata seluruh penghuni kantin, termasuk ibu dan
bapak kantin. Dia Alvin, kakak kelasku yang merupakan idola para perempuan di
sekolah. Ganteng, kaya dan popular adalah julukan yang pantas untuknya,
terlebih dia juga merupakan kapten team basket. Ah,perempuan mana sih yang tak
ingin menjadi pacarnya.
“Jadi, bagaimana jawabanmu?” kak Alvin
kembali menanyakan pertanyaannya kepadaku, dia masih tetap berlutut disamping
meja makanku sambil memegang bunga mawar ditangannya. Aku terdiam, kaget bukan
main kenapa tiba-tiba kak Alvin menembakku. Memang sudah dua minggu ini aku sering
chatting dengannya, itu juga karena awalnya dia ingin mengembalikan buku
tulisku yang terjatuh di dekat lapangan olahraga tempo hari. Tetapi aku tidak
pernah berpikiran akan di tembak seperti ini, di depan umum pula.
“Em, kak Alvin..” jawabku menggantung.
Aku melihat sekelilingku, mereka terlihat seperti menunggu jawabanku. Ada yang
menantikanku menerimanya, ada yang patah hati yang sembilan puluh persen adalah perempuan penggemar beratnya kak Alvin,
ada juga yang tak peduli dan tetap asik melahap makanannya.
“Iya, aku mau.” Tak peduli seberapa
banyak bulatan merah di pipiku, yang jelas saat ini aku senang.
---
“Happy Anniversary sayang. I love you”
Sudah dua bulan aku menjalani hubungan
dengan kak Alvin, malam ini dia mengajakku makan di salah satu restoran yang
memang suasananya sangat romantis. Terlebih perlakuan yang diberikannya juga
manis sekali. Sungguh kak Alvin benar-benar orang yang romantis. Aku sayang
dia.
---
“Iya Rin,
pokoknya kemarin malam aku senang sekali kak Alvin memperlakukanku seperti itu.
Kalau kamu lihat pasti kamu iri deh sama aku” celotehku yang sedari tadi
menceritakan kejadian semalam pada sahabatku Karin.
“Wah, selamat ya aku ikut senang.
Langgeng yah kamu sama kak Alvin” sambil tersenyum kikuk.
“Hahaha, makasih ya sahabatkuuu”
Hari ini aku tidak pulang bersama kak
Alvin, dia sedang ada urusan katanya. Aku juga berniat mengajak Karin main, tetapi dia
bilang dia ingin membantu ibu nya dirumah. Malas sekali rasanya pulang kerumah,,
akhirnya aku memutuskan pergi ke salah satu pusat perbelanjaan.
“Mba pesan jus strawberry nya ya 1”
ucapku pada seorang pelayan di mall tersebut,
sudah hampir satu jam aku memutari mall itu, tapi hanya satu barang saja yang
ku beli. Itu juga untuk kak Alvin.
“Baik, ada lagi yang ingin di
pesan?”
“Itu saja mba” ucapku sambil
tersenyum ramah. Kemudian pelayan tersebut mengangguk dan kembali ke tempatnya.
Aku mengetuk-ngetukan jariku di
meja, bosan juga ternyata tidak ada teman ngobrol. Aku mengambil ponsel di saku
seragamku. Mengecek barangkali ada pesan masuk dari kak Alvin, ternyata tidak
ada. Mungkin dia memang benar-benar lagi sibuk dengan urusannya, pikirku. Aku
memasukan kembali ponselku ke dalam saku, kemudian mataku menyusuri seisi
restoran mencari hiburan atau menyegarkan mata agar tidak terlalu bosan. Dan mataku
terhenti pada seseorang yang duduknya agak jauh dari tempat duduk ku. Tapi aku
masih dapat melihat jelas wajah seseorang itu, bahkan aku sangat mengenali dia
itu siapa. Dia kak Alvin. Tapi kak Alvin tidak sendiri, dia berdua bersama
seorang..perempuan. Aku tidak bisa melihat wajah perempuan itu, karena dia
duduk membelakangiku. Entah mengapa air mataku jatuh begitu saja. Tapi tunggu,
aku seperti mengenali postur tubuh perempuan itu dari belakang, rambutnya juga.
Dan yang membuatku tambah yakin adalah....cardigannya, iya cardigan yang
dikenakannya itu sama percis dengan cardigan yang dikenakan Karin tadi. Iya,
dia memang Karin.
“Permisi mba, ini pesanannya.
Maaf ada yang bisa saya bantu lagi mba?” pandangan ku beralih pada pelayan yang
mengantarkan pesananku tadi. Dia bertanya dengan hati-hati karena takut menggangguku yang sekarang
sedang menangis. Aku tersenyum dan menyeka air mata yang terjatuh di pipiku.
“Tidak terimakasih.” Kemudian pelayan itu pergi.
Aku mengalihkan pandanganku
lagi pada dua sosok yang sangat kukenali itu, terlihat tangan kak Alvin
menggenggam lembut tangan sahabatku itu. Sebenarnya ini ada apa? Padahal baru
kemarin aku diperlakukan manis oleh kak Alvin, dan baru tadi pagi aku
menceritakan kejadian semalam pada Karin. Sebenarnya ada hubungan apa diantara
mereka, kenapa mereka tega membohongiku?
Dan kenapa aku merasa...dikhianati.
---
Hari ini aku berangkat sekolah
lebih awal, dengan alasan ingin menghindari kak Alvin. Padahal terlihat jelas
di wajahku bahwa aku sedang malas bersekolah. Kepalaku sedikit pusing, karena
aku menangis semalaman. Tapi mataku tidak terlalu kelihatan sembab, karena tadi
subuh aku mengompresnya dengan air hangat. Sampai akhirnya aku memasuki kelas,
seseorang tersenyum dan menyapa ku.
“Haiiii Bunga, tumben dateng
pagian nih” senang, pagi ini dia terlihat begitu senang.
“Gapapa lagi pengen aja, seneng
banget nih kayaknya. Ada apa?” aku hanya bertanya sambil tersenyum tipis.
“Hahaha masasih? Engga ah biasa
aja kali. Btw lesu banget sih neng”
“Lagi gaenak badan aja. Oh iya
kemarin kamu kemana?”
“Ha? Hm, kan aku udah bilang
mau bantu mama dirumah” dia terlihat
kikuk saat menjawab pertanyaanku, tapi aku mengabaikannya dan langsung
menduduki bangku sambil menidurkan kepalaku diatas meja “Oh iya aku lupa”
Aku di perintah oleh guru
fisika untuk membawa buku-buku tebal ini ke ruangannya, tiba-tiba saja ada seseorang
yang menepuk pundak ku.
“Hei, kamu kok tadi berangkat
duluan? Ga hubungin aku lagi, kamu kenapa?” seorang laki-laki yang kemarin
jalan dengan sahabatku sendiri.
“Iya kak maaf aku ga sempet
sms, tadi ada urusan mendadak aja jadi aku harus dateng pagi-pagi”
“Oh gitu, kirain kenapa hehe”
Hanya itu? Hah.
Dia pun tidak ada niat sedikit pun untuk sekedar minta maaf karena kemarin sama
sekali tidak memberiku kabar.
“Oh iya kak, kemarin sibuk
banget ya urusannya? Sampe lupa ngasih kabar gitu hehe”
“Oh.. itu.. iya aku sibuk
banget soalnya abis ada acara keluarga hehe. Maaf ya aku jadi lupa ngabarin
kamu, kamu ga marah kan sayang?” Saudara? Sejak kapan Karin saudaraan sama kak
Alvin ha-ha. Tak ingin berlama-lama dengannya aku pun segera pergi ke ruang
guru “Kak aku duluan ya, ditunggu sama bu Hani nih” aku menyunggingkan senyum
tipis kepadanya yang dibalas usapan kepala olehnya.
---
“Tega ya kamu rin sama aku, aku
fikir kamu sahabat baik aku tapi ternyata kamu malah nusuk aku dari belakang”
bulir-bulir air mata sukses menghiasi pipiku saat aku mengambil selembar foto
yang terjatuh dari tas nya Karin. Foto seperti sepasang kekasih yang terlihat
bahagia. Siapa lagi kalo bukan foto dia dengan kak Alvin.
“Engga bunga, jangan salah
paham dulu. Aku enggak--“
“Enggak apa? Kamu mau bilang
kalo foto ini ga sengaja ha? Udahlah rin, kamu fikir aku gatau kalau dua hari
yang lalu kamu jalan sama kak Alvin? Kamu jahat rin sama aku”
“Iya emang aku jalan sama kak
Alvin, terus kenapa? Emang cuma kamu doang yang bisa ngerasain seneng? Aku
benci sama kamu, kamu selalu bisa dapetin apa yang aku mau. Kamu selalu bisa
nyuri perhatian guru-guru ataupun temen-temen, kamu selalu menjadi juara kelas
bahkan kebanggaan sekolah, kamu disenangi para cowo-cowo disini, dan asal kamu
tau ya aku udah suka sama kak Alvin jauh sebelum kamu jadian sama dia. Aku cuma
mau kak Alvin, apa aku salah? Dan kalau kamu tau, aku udah seminggu backstreet
sama dia” Jleb! Semua perkataan yang diucapkan Karin benar-benar membuat hatiku
mencelos. Aku menangis, sakit hati. Dan aku juga melihat dia...menangis.
“Ga nyangka ya, aku fikir kamu
adalah satu-satunya teman terbaikku tapi ternyata kaya gitu. Kamu cuma nganggep
aku saingan kamu aja? Kamu cuma pengen dapetin apa yang aku punya? Padahal aku
tulus banget sahabatan sama kamu. Dan kalau aku bisa juga, aku akan kasih semua
yang aku punya buat kamu kalau itu buat kamu seneng” kemudian aku membisikan
telinganya “Terakhir, kenapa ga dari awal kamu bilang kalau kamu suka Alvin.
Kalau aku tau kamu suka sama dia pasti aku ga akan nerima dia jadi pacarku.
Karena aku gapernah mau liat sahabatku sendiri sakit hati” aku menjauhkan
bibirku dari telinganya, kemudian tersenyum sambil menyeka air mata. Lalu
pergi. Dia
terdiam dan semakin menangis.
Aku berlari keluar kelas sambil
menangis, tidak menyangka ternyata orang yang aku sayangi keduanya tega mengkhianatiku. Aku
menghentikan langkah kaki ku. Aku benar-benar sakit hati. Kemudian seseorang
memanggilku. Suara itu, aku kenal suara itu. Rasanya aku ingin sekali pergi
dari tempat ini sekarang juga.
“Bunga, kamu kenapa nangis?
Kamu ada masalah? Atau kamu lagi sakit?” kak Alvin memegang pundak ku dari
belakang kemudian memutar tubuhku agar aku berhadapan dengannya. Aku menghela
nafas panjang.
“Aku gapapa kok kak, ohiya aku
pengen ngomong sesuatu sama kaka”
“Ngomong apa? Kita duduk disana
yuk, biar kamu ga cape berdiri terus” kak Alvin menunjuk bangku dekat lapangan
basket.
“Gausah kak, aku ga lama kok.
Aku cuma mau bilang, makasih ya kak Alvin selama dua bulan ini udah mau sayang
sama aku”
“Loh iya sayang sama-sama tapi
kok tumben banget kamu ngomong kaya gini, ada apa?”
“Gapapa, aku mau minta putus ya
kak aku pikir buat apa kita lanjutin hubungan kita kalau kak Alvin aja udah
punya cewe lain selain aku” ucapku tersenyum, mataku berkaca-kaca lagi.
“Jadi..kamu u..dah tau?”
ucapnya kaget. “Maaf, aku ga bermaksud mau nyakitin kamu” lanjutmya sambil
menggenggam tanganku. Aku melepaskan genggamannya perlahan kemudian membuka
resleting tas ku dan mengambil sesuatu.
“Ga bermaksud nyakitin tapi
kenyataannya sekarang aku sakit” lalu aku menyerahkan sesuatu yang baru saja ku
ambil dari tas. “Ini buat kaka, dua hari yang lalu aku jalan dan aku liat
barang ini. Terus aku inget kak Alvin mangkanya aku beli ini buat kaka” kak
Alvin mengambil barang itu dari tanganku. “Oh iya, aku juga liat kaka sama
Karin waktu itu, mesra banget” lagi-lagi aku memamerkan senyumku padanya.
Senyum menyedihkan.
“Aku bisa jelasin semuanya kok,
kamu jangan salah paham dulu. Aku gamau putus sama kamu, please kasih aku
kesempatan” dia memelukku, akhirnya air mata yang dari tadi ku bendung jatuh
juga. Aku menghela nafas lagi, kemudian melepaskan pelukannya.
“Maaf kak aku gabisa, semoga
kakak langgeng sama Karin. Dan aku akan berusaha ikhlasin kakak buat dia. Aku
pulang dulu ya” aku menatap matanya yang sedari tadi menatapku. Terlihat
penyesalan diwajahnya, tetapi mau bagaimana lagi aku benar-benar ingin
memutuskan hubunganku dengannya.
“Aku sayang banget sama kakak.
Makasih juga kakak udah bisa bikin hati aku sakit kaya gini” kemudian aku
berlari dengan berlinang air mata, tak peduli seberapa keras dia
memanggil-manggil namaku ataupun dengan cepat mengejarku. Yang jelas aku ingin
cepat-cepat hilang dari hadapannya.
---
Alvin memandangi barang yang
diberikan oleh Bunga tadi siang, sebuah boneka beruang yang sedang memegang
bola basket ditengahnya. Kemudian didalam perut boneka itu ada sebuah tombol
yang bila dipencet keluar rekaman suara orang. Alvin berkali-kali memencet
boneka itu “Hallo kak alvin ganteng, I
love You” begitulah isi rekaman suara Bunga. Dia
mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Baru
menyesali kenapa dia tega mengkhianati hati ‘mantan’ kekasihnya
itu. Padahal sedikitpun tidak pernah
gadisnya itu melukai hatinya. Memang penyesalan selalu dating belakangan, dan
saat ini dia benar-benar menyesal karena telah menyia-nyiakan gadis kecilnya
itu.
by: Rexa~
#Cerpen