Universitas Gunadarma

Sabtu, 17 Januari 2015

Rumus Statistika Matematika

1. Rumus Rataan Hitung (Mean) 
Rata-rata hitung dihitung dengan cara membagi jumlah nilai data dengan banyaknya data. Rata-rata hitung bisa juga disebut mean.
a) Rumus Rataan Hitung dari Data Tunggal 
b) Rumus Rataan Hitung Untuk Data yang Disajikan Dalam Distribusi Frekuensi

Dengan : fixi = frekuensi untuk nilai xi yang bersesuaian
xi = data ke-i
c) Rumus Rataan Hitung Gabungan
2. Rumus Modus
a. Data yang belum dikelompokkan
Modus dari data yang belum dikelompokkan adalah ukuran yang memiliki frekuensi tertinggi. Modus dilambangkan mo.
b. Data yang telah dikelompokkan
Rumus Modus dari data yang telah dikelompokkan dihitung dengan rumus:

Dengan : Mo = Modus
L = Tepi bawah kelas yang memiliki frekuensi tertinggi (kelas modus) i = Interval kelas
b1 = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval terdekat sebelumnya
b2 = frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval terdekat sesudahnya
3. Rumus Median (Nilai Tengah)
a) Data yang belum dikelompokkan
Untuk mencari median, data harus dikelompokan terlebih dahulu dari yang terkecil sampai yang terbesar. 
b) Data yang Dikelompokkan

Dengan : Qj = Kuartil ke-j
j = 1, 2, 3
i = Interval kelas
Lj = Tepi bawah kelas Qj
fk = Frekuensi kumulatif sebelum kelas Qj
f = Frekuensi kelas Qj
n = Banyak data
4. Rumus Jangkauan ( J )
Selisih antara nilai data terbesar dengan nilai data terkecil.
5. Rumus Simpangan Quartil (Qd)
6. Rumus Simpangan baku ( S ) 
7. Rumus Simpangan rata – rata (SR) 
8. Rumus Ragam (R)
Contoh soal statistika
Tabel 1.1 dibawah ini:
Jawab :




Semoga banyak manfaat belajar matematika!
http://www.rumus.web.id/matematika/rumus-statistika-matematika/

Klasifikasi Kata Sambung Dalam Bahasa Inggris / Conjunction

kata sambung dalam bahasa inggris / Conjunction dibedakan menjadi dua macam menurut fungisnya yaitu subordinating conjunction dan coordinating conjunction.
1. Subordinating Conjunction
Conjunction / kata sambung dalam bahasa inggris jenis ini berfungsi untuk menghubunkan antara induk kalimat dengan anak kalimat. Kata penghubung yang termasuk dalam tipe ini adalah:
ConjunctionContoh conjunction dalam Kalimat
WhoThe girl who is reading a novel is my sister
WhichI love that picture which can make me happy
WhereThe teacher knows where the students are hiding.
WhyMom doesn’t know why the washing machine is not working.
HowDad knows how to fix a car
That-Rob realized that it’s not his fault
-The wallet that is brought by him is gone.
WhileUncle Sam is gardening while Patsy takes a nap
WhetherI don’t know whether it’s right or wrong
BeforeI had locked the door before I left the house
Although, thoughI have to attend the lectures although it’s going to rain
SinceWe have had in a relationship since in high school.
So that-You are so beautiful that everybody’s attracted to you.
-Harry has to study hard so that he can pass the national exam
UntilYou have to wait until the bus comes.
As-Coolie fell down the stairs as he tried to get down
AfterI directly go to campus after taking a bath
As ifShe talks  as if knowing everything
In order thatYou need to smile in order that she likes you.
OnceGary called his girlfriend once he got a badnews
Beause of + (noun phrase)Because + (S+V)-My roommate is screaming because of the sudden dark.
-She did not come today because she is sick.
UnlessYou may sign the attendance list unless you come on time
IfI won’t give them a mercy if I were you.
ThanYou’d better find the solution soon than complaining.
As long asYou’re allowed to live here as long as you pay the monthly fee.
2. Coordinating Conjunction
Conjunction / kata sambung dalam bahasa inggris tipe ini berfungsi untuk menggabungkan dua kalimat yang berkedudukan sama dan terletak di antara kalimat/klausa yang dihubungkan.
ConjunctionContoh conjunction dalam kalimat
AndShe’s smart and pretty I think.
ButMy brother is mischievous but diligent.
OrYou want money or prize?
HoweverThe fuel cost is rising up however the public transportation cost won’t make any change.
neverthelessThe tuition fee is increasing each year, nevertheless the rector won’t let the students get difficulties in their study.
thereforeIt’s hard to earn money therefore you have to save more money.
forI did not withdraw the money for the bank was closed
yetRudy loves to eat a lot yet he doesn’t grow bigger.
soThe shop offers a great sale so there are numerous of customers come to it.
Both…and…..Both of you and me are rivals
Neither..nor..Neither my parents nor my friends do not care to me.
Either…or….Either Gaby or Jennifer is a good girl
Not only…. But also…Kim is not only talkative but also funny.

Synopsis of the Harry Potter Stories

The story of Harry Potter begins as he is about to celebrate is eleventh birthday. Up until this time, Harry’s birthdays have come and gone like any other day; they have been nothing worth celebrating. You see, Harry has lived in a cupboard under the stairs in his Uncle Vernon’s and Aunt Petunia’s house. He has never received a birthday present worth remembering. His very few possessions have been the hand-me-downs of his cousin Dudley. Harry has never known why the Dursley’s have never treated him well. All he knows is that his mother and father died in a car crash and he came to live with the Dursley’s when he just one year old.

But all things will forever change on Harry’s eleventh birthday. He learns from a letter, given to him by an unknown, very large person name Hagrid, that he is not just a regular person. He learns that like his mother and father, he too is a wizard. Harry’s life changes in an instant. The letter he receives is an acceptance and invitation to study at Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry.
Upon arriving at Hogwarts, Harry is sorted into the Gryffindor House by the Sorting Hat. At Hogwarts, Harry will learn what it means to be Wizard. He will learn many things about wizardry from his teachers and Head Master, Dumbledore. He will learn that not all people come from wizard families. Some, called Muggles, will also study at Hogwarts. For the first time, he will meet and make friends. Hermione Granger (Muggle born) and Ron Weasley (Wizard ), will help Harry through a most challenging first year at Hogwarts.

Harry’s first year at Hogwarts will be challenging as he comes to learn more about his past and the death of his parents. Not only did Harry learn on his eleventh birthday that he was a wizard, but he also learned that his parents died at the hands of a wizard practicing dark magic:Voledmort. And although, Voldemort attempted to kill Harry, something saved him. Instead of Harry dying, Voldemort lost his powers. Harry is reminded of that fateful night each time he looks in the mirror and sees a lightening bolt scar on his forehead and as others greet him famously wherever he goes.
Harry will experience many life threatening situations during his first year. These situations will arise as he comes to learn more about Voldemort and those that follow him. Every experience Harry, Hermione, and Ron will find themselves in, will bring Harry closer to the one that must not be named, Voldemort.

http://people.bu.edu/wwildman/WeirdWildWeb/courses/theo1/projects/2001_mitchellward/synopsis.htm

Hadiah Ulangtahun Untuk Gadis Kecilku

Di sebuah rumah yang tidak begitu besar,  terdapat seorang gadis yang sedari tadi tak kuasa menghentikan isakan tangisnya. Gadis itu terdiam menatap kosong tubuh wanita tua yang saat ini sedang terbujur kaku dengan balutan kain kafan dan kapas-kapas yang menutupi setiap lubang di bagian tubuhnya. 
Dia teringat kejadian sebulan yang lalu saat ibunya belum meninggalkan dunia “Bu, mulai besok jangan dateng ke sekolah ku lagi ya. Aku tuh malu kalau teman-teman ku liat ibu tuh ibu aku.” Bila dia tau, betapa sakit hati ibunya saat anaknya dengan tega mengatakan hal tersebut padanya. Begitu hina kah ibu dimatanya? Sampai-sampai mengakui ibunya saja dia tidak mau.

Dua minggu lagi, gadis yang bernama Dea itu akan berulang tahun yang ke 13. Ibunya ingin sekali memberikan hadiah istimewa untuk anak tercintanya. Tetapi, beliau tidak memiliki banyak uang untuk membelikannya hadiah tersebut. Segala cara dilakukannya agar beliau bisa mendapatkan uang dan membelikan gadis kecilnya itu sebuah hadiah. Karena kesehariannya hanya menjadi tukang kue keliling, beliau merasa uang hasil jualannya tidak akan cukup. Akhirnya, beliau menjadi tukang cuci di setiap rumah sebagai kerja sampingannya. Satu rumah beliau diberi upah dua puluh ribu. Dan sehari beliau mampu mencuci untuk tiga rumah, jadi uang yang di dapatkannya selama sehari enam puluh ribu. Lumayan pikirnya. Selama seminggu beliau hanya bekerja lima hari, karena sabtu minggu adalah waktunya beliau mengistirahatkan diri.

6 hari sebelum hari ulangtaun anak tercintanya..

Hari ini beliau merasakan tubuhnya tidak enak badan, sejak kemarin malam beliau merasakan sakit kepala hebat yang tak kunjung henti. Padahal beliau sudah meminum obat warung yang dibelinya tadi malam. Hari ini beliau memutuskan untuk libur bekerja dulu.

5 hari sebelum hari ulangtaun anak tercintanya..

“Dea, maaf ibu bangun kesiangan. Kamu sudah makan? Mau ibu bikinkan telur dadar?” ucap ibunya yang sudah merasa lebih sehat dibandingkan dengan kemarin.
“Gausah bu, aku bosan. Telur dadar lagi telur dadar lagi. Aku tuh butuh perbaikan gizi bu.” Ucapnya ketus, meskipun kelakuannya seperti itu tetapi beliau tetap dan akan selalu menyayangi gadis kecilnya itu. Beliau pun memberikan uang sepuluh ribu kepada anaknya, Dea langsung mengambilnya dan kemudian pergi tanpa menyalami ibunya. Ibu pun menatap nanar anaknya yang sudah menghilang dari hadapannya.

2 hari sebelum ulangtaun anak tercintanya..

Ini hari terakhir beliau bekerja, karena sudah merasa fisiknya tidak kuat lagi melakukan pekerjaan-pekerjaan ini. Tetapi saat beliau sedang bekerja, sakit kepala hebat datang kembali menghampirinya. Terlihat hidungnya yang sudah mengeluarkan banyak darah, hanya pening yang dirasakannya dan pandangannya mulai kabur. Kemudian pingsan.
Beruntung majikannya yang satu ini baik hati membawa beliau ke rumah sakit dan membiayai pengobatannya hari itu juga. Kakinya lemas, tubuhnya bagaikan tak bertulang saat dokter menjelaskan penyakit apa yang diderita beliau saat ini. Kanker darah stadium akhir. Hanya satu yang ada di pikirannya, gadis kecilnya itu. Beliau tidak ingin gadis kecilnya nanti akan hidup sebatang kara, karena sejak Dea masih kecil ayahnya telah meninggalkan dunia terlebih dahulu, dan hanya ibu nya lah satu-satunya keluarga yang dia punya. Sungguh beliau masih belum siap melihat gadis kecilnya akan hidup sendirian. 

Sehari sebelum ulangtaun anak tercintanya..

Dengan semangat beliau melangkahkan kaki ke pasar, dia tidak sabar melihat gadis kecilnya itu tersenyum bahagia saat ibunya membawakan hadiah untuknya dan kemudian memeluknya dengan rasa sayang. Akhirnya, hadiah yang akan diberikannya terbeli juga.

Tepat hari ulangtahun anak tercintanya..

Dea terbangun dari tidurnya, hari ini hari minggu jadi dia tidak bersekolah. Dea melangkahkan kaki kearah dapur yang bisa dibilang kecil itu. Dia membuka meja makan yang ternyata isinya sudah ada kue ulangtaun berukuran mini dengan hiasan keju coklat diatasnya. Dea baru ingat bahwa hari ini adalah hari ulangtaunnya, dia tersentuh melihat kue itu karena sudah lama Dea tidak pernah dibelikan kue saat dia ulangtahun, tak sadar matanya pun berkaca-kaca. Kemudian dia celingak-celinguk mencari keberadaan ibunya yang tidak ada di tempat. Mungkin di kamar, pikirnya. Akhirnya dia berjalan kea rah kamar ibunya karena dia ingin mengatakan terimakasih kepada ibunya.

“Ibuuuuuuuuu” tangisan itu meledak saat dirinya melihat ibu yang selama ini mengurusnya, tertidur lemas dengan masih menggunakan mukena yang sudah dibanjiri oleh darah yang keluar dari mulutnya. Dia memeluk ibunya, dan menyadari bahwa ibunya sudah tidak bernafas lagi. Ia tidak menyangka ibunya akan meninggalkannya secepat ini, padahal ia belum sempat meminta maaf atas perlakuannya selama ini dan bilang terimakasih atas hadiah yang sudah beliau berikan. Ia menangis sejadi-jadinya.

Dan hari ini adalah hari pemakaman ibunya sekaligus hari dimana ibunya juga melahirkan anak yang sangat disayanginya itu. Dea masih menatap kosong jenazah ibunya itu kemudian beralih menatap secarik kertas dan benda kecil yang digenggamnya. Benda itu adalah sebuah liontin yang berbandulkan hati, indah sekali. Di belakang liontin itu terukir kecil nama yang bertuliskan ‘gadis kecilku’. Dia semakin terisak, menangisi apa yang baru saja diberikan ibu untuknya. Kemudian dia mengalihkan matanya pada kertas yang digenggam sebelah kirinya, kemudian membaca isi kertas tersebut.

Pagi gadis kecilku,
Selamat ulangtahun ya nak
Semoga kamu panjang umur dan
selalu diberikan kesehatan oleh Allah
Sebenarnya ibu ingin sekali
Ngucapin ulangtahun langsung ke kamu
Tapi waktu ibu ke kamar kamu
Kamu terlihat begitu nyenyak
Ibu jadi tidak tega membangunkan gadis kecil ibu
Sepertinya ibu tidak sempat nih mengucapkan ulangtahun langsung ke kamu
Soalnya badan ibu berasa capek sekali
Jadi ibu mau tidur dan istirahat dulu ya nak
Ibu selalu menyayangi mu
Selamat ulang tahun Dea
                                                Dari ibu mu yang sangat menyayangi mu


Dea tak kuasa menahan tangisnya, saat ini dia benar-benar menyesali semuanya. Dia menyia-nyiakan orang yang selama ini dengan tulus menyayanginya. Andai waktu bisa diulang, dia akan memperbaiki semuanya yang telah ia lakukan. Termasuk memuliakan ibunya.

#Cerpen

Dibalik 98

"Dibalik 98" mengisahkan perjuangan keluarga dan pengorbanan cinta melewati sebuah tragedi Mei 1998. Krisis moneter membuat hampir semua orang menjadi panik dan berada dalam ketakutan. Seluruh masyarakat kebingungan dengan situasi negara yang genting. Gerakan gabungan mahasiswa seluruh Indonesia yang terus menuntut turunnya presiden Soeharto. Dengan puncaknya pada 13-14 Mei saat Tragedi Trisakti terjadi.
Ditengah kondisi yang penuh ketidakpastian, presiden Soeharto memutuskan untuk tetap pergi ke Kairo menghadiri KTT G-15. Sementara itu wakil presiden B.J Habibie dikejutkan oleh insiden penembakan di Trisakti yang berbuntut pada terjadinya kerusuhan besar.
Di balik tragedi yang kelam itu ada kisah lain, kisah sebuah keluarga yang tercerai berai dan kisah sepasang kekasih yang terpisahkan. Bagus (Donny Alamsyah) seorang Letnan Dua, berada dalam situasi bimbang ketika harus berhadapan dengan situasi yang luar biasa. Tanggung jawab sebagai petugas pengamanan harus berbenturan dengan kewajiban utamanya untuk menjaga, Salma (23Ririn Ekawati) seorang pegawai Istana Negara. Sayangnya, Salma harus berada dalam situasi tidak kondusif dan berbahaya ketika ia terjebak kerusuhan dan dinyatakan hilang. Hati Bagus yang bimbang, berubah menjadi hancur ketika ia harus menerima kenyataan tersebut. Kerusuhan yang terjadi memaksa presiden Soeharto untuk pulang dari Kairo lebih awal. Pemerintah dihadapkan pada situasi yang sulit. Tokoh masyarakat dan beberapa perwakilan Ormas secara langsung meminta presiden Soeharto mundur. Namun ia tak bergeming dan berencana membentuk komite dan kabinet reformasi untuk menjawab tuntutan tersebut. Keadaan semakin pelik ketika Daniel (Boy William) pacar Diana (Chelsea Islan), seorang keturunan Tionghoa yang juga ikut berjuang menuntut perubahan harus kehilangan ayah dan adiknya dalam kerusuhan 14 Mei. Bahkan Daniel hampir terjebak sweeping warga untuk menyaring orang-orang Non Pribumi, yang saat itu menjadi puncak issue rasial di Indonesia.
Pencarian Bagus terhadap Salma membuahkan hasil, Salma yang hamil tua terselamatkan dan segera dibawa ke sebuah rumah sakit. Bagus dan Diana berhasil menemukan Salma di saat dia akan melahirkan anak pertamanya. Bayi yang mereka nantikan pun harus dilahirkan ketika perjuangan reformasi baru lahir.
Jakarta 2015, 17 Tahun setelah reformasi Daniel kembali ke Jakarta dengan membawa abu kremasi ayahnya. Ayahnya yang begitu mencintai Indonesia, hingga ia ingin beristirahat untuk selama-lamanya di tanah kelahirannya itu. Daniel pun berhasil menemukan Diana. Keduanya masih memiliki semangat yang sama untuk melanjutkan semangat reformasi, semangat perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.

http://www.wowkeren.com/film/dibalik_98/

Luka Tetaplah Luka

Di sebuah pantai yang di sambut dengan derasnya hujan, ada gadis yang sedang duduk penuh resah sambil memandangi hujan. “Rena” kata laki-laki yang dikenalnya. Rena gadis yang mempunyai senyuman manis itu menoleh ke arah suara itu. Suara yang sangat dikenalnya. Dia disana, Dante berdiri dengan tubuhnya yang basah kuyup. Celana, jaket dan kausnya basah.
Rena berdiri dan langsung berlari ke arah Dante. Kemudian, Rena memeluk laki-laki itu dan tiba-tiba Dante terkejut, tapi kali ini Dante tidak membuang muka dengan berpura-pura. Dante pun langsung menanyakan kalimat “Apa kamu baik-baik saja Rena?” atau “Kamu kenapa Rena?” Rena pun menjawab “Tidak, aku hanya sedikit terluka Dante” jawabnya dengan memeluk Dante dengan erat, karena Dante juga terluka. Dante hanya membiarkan emosinya lepas, kali ini, dan mungkin hanya kali ini. Dante membiarkan keegoisan menguasai dirinya. Perlahan-lahan tangannya bergerak memeluk tubuh Rena.
Di tepi pantai yang diguyur hujan, berdiri dua orang yang tengah terluka. Bukan luka fisik, melainkan luka hati. Mungkinkah luka mereka disebabkan oleh hal yang berbeda. Tapi, luka tetaplah luka. Rasanya akan selalu menyakitkan, bagi siapapun yang merasakannya. Perasaan mereka, ketakutan, kegelisahan, kekhawatiran, kesedihan yang mereka alami, beban yang mereka tanggung selama bertahun-tahun. Mereka melepaskannya lewat sebuah pelukan.

Segala perasaan itu, segalanya, melebur. Kemudian, bersatu dengan air hujan lalu terbawa ke lautan.

Rynhrd~

20:40

Pada waktu itu, di stasiun yang begitu asing, sepasang kaki melangkah dengan ganjil membawa kenangan akan kecupan pertama yang mendarat di kening ku. Sambil berdoa agar waktu cepat berlalu. Berfikir akan terjadinya hal itu, ada sebuah kata menjelaskan “Jangan kecup kening seseorang jika kau hanya bermaksud memberikan kenangan baik lalu kemudian pergi, dan membuat seseorang itu berharap mengembalikan waktu sebelum kau kecup keningnya.”
Kemudian aku kembali memikirkan kata maaf. Sebetulnya setiap maaf yang diberikan adalah kepercayaan untuk memperbaiki. Ya walau sifatnya tidak lagi utuh, tapi wajib untuk dipertahankan dan yang jelas dimaafkan. Kata maaf yang pertama membuatmu yakin memberikan kesempatan yang kedua, tapi tidak untuk maaf yang selanjutnya.
Memang semua orang pantas diberikan maaf, untuk kesekian kalinya. Tapi tidak semuanya pantas diberikan kepercayaan.

Rynhrd~

Bunga

“Bunga, maukah kamu jadi pacarku?”

Aku tersedak saat aku sedang meminum milkshake strawberry yang baru saja ku pesan, pada saat itu juga ada seseorang yang dengan lantang menyatakan perasaannya padaku di depan seluruh penghuni kantin itu. Mau tidak mau meja ku menjadi sorotan mata seluruh penghuni kantin, termasuk ibu dan bapak kantin. Dia Alvin, kakak kelasku yang merupakan idola para perempuan di sekolah. Ganteng, kaya dan popular adalah julukan yang pantas untuknya, terlebih dia juga merupakan kapten team basket. Ah,perempuan mana sih yang tak ingin menjadi pacarnya. 

“Jadi, bagaimana jawabanmu?” kak Alvin kembali menanyakan pertanyaannya kepadaku, dia masih tetap berlutut disamping meja makanku sambil memegang bunga mawar ditangannya. Aku terdiam, kaget bukan main kenapa tiba-tiba kak Alvin menembakku. Memang sudah dua minggu ini aku sering chatting dengannya, itu juga karena awalnya dia ingin mengembalikan buku tulisku yang terjatuh di dekat lapangan olahraga tempo hari. Tetapi aku tidak pernah berpikiran akan di tembak seperti ini, di depan umum pula.
“Em, kak Alvin..” jawabku menggantung. Aku melihat sekelilingku, mereka terlihat seperti menunggu jawabanku. Ada yang menantikanku menerimanya, ada yang patah hati yang sembilan puluh persen adalah perempuan penggemar beratnya kak Alvin, ada juga yang tak peduli dan tetap asik melahap makanannya.
“Iya, aku mau.” Tak peduli seberapa banyak bulatan merah di pipiku, yang jelas saat ini aku senang.
---
“Happy Anniversary sayang. I love you”  
Sudah dua bulan aku menjalani hubungan dengan kak Alvin, malam ini dia mengajakku makan di salah satu restoran yang memang suasananya sangat romantis. Terlebih perlakuan yang diberikannya juga manis sekali. Sungguh kak Alvin benar-benar orang yang romantis. Aku sayang dia.
---
“Iya Rin, pokoknya kemarin malam aku senang sekali kak Alvin memperlakukanku seperti itu. Kalau kamu lihat pasti kamu iri deh sama aku” celotehku yang sedari tadi menceritakan kejadian semalam pada sahabatku Karin.
“Wah, selamat ya aku ikut senang. Langgeng yah kamu sama kak Alvin” sambil tersenyum kikuk.
“Hahaha, makasih ya sahabatkuuu” 

Hari ini aku tidak pulang bersama kak Alvin, dia sedang ada urusan katanya. Aku juga berniat mengajak Karin main, tetapi dia bilang dia ingin membantu ibu nya dirumah. Malas sekali rasanya pulang kerumah,, akhirnya aku memutuskan pergi ke salah satu pusat perbelanjaan. 

“Mba pesan jus strawberry nya ya 1” ucapku pada seorang pelayan di mall tersebut, sudah hampir satu jam aku memutari mall itu, tapi hanya satu barang saja yang ku beli. Itu juga untuk kak Alvin.
“Baik, ada lagi yang ingin di pesan?”
“Itu saja mba” ucapku sambil tersenyum ramah. Kemudian pelayan tersebut mengangguk dan kembali ke tempatnya.

Aku mengetuk-ngetukan jariku di meja, bosan juga ternyata tidak ada teman ngobrol. Aku mengambil ponsel di saku seragamku. Mengecek barangkali ada pesan masuk dari kak Alvin, ternyata tidak ada. Mungkin dia memang benar-benar lagi sibuk dengan urusannya, pikirku. Aku memasukan kembali ponselku ke dalam saku, kemudian mataku menyusuri seisi restoran mencari hiburan atau menyegarkan mata agar tidak terlalu bosan. Dan mataku terhenti pada seseorang yang duduknya agak jauh dari tempat duduk ku. Tapi aku masih dapat melihat jelas wajah seseorang itu, bahkan aku sangat mengenali dia itu siapa. Dia kak Alvin. Tapi kak Alvin tidak sendiri, dia berdua bersama seorang..perempuan. Aku tidak bisa melihat wajah perempuan itu, karena dia duduk membelakangiku. Entah mengapa air mataku jatuh begitu saja. Tapi tunggu, aku seperti mengenali postur tubuh perempuan itu dari belakang, rambutnya juga. Dan yang membuatku tambah yakin adalah....cardigannya, iya cardigan yang dikenakannya itu sama percis dengan cardigan yang dikenakan Karin tadi. Iya, dia memang Karin.
“Permisi mba, ini pesanannya. Maaf ada yang bisa saya bantu lagi mba?” pandangan ku beralih pada pelayan yang mengantarkan pesananku tadi. Dia bertanya dengan hati-hati karena takut menggangguku yang sekarang sedang menangis. Aku tersenyum dan menyeka air mata yang terjatuh di pipiku. “Tidak terimakasih.” Kemudian pelayan itu pergi.

Aku mengalihkan pandanganku lagi pada dua sosok yang sangat kukenali itu, terlihat tangan kak Alvin menggenggam lembut tangan sahabatku itu. Sebenarnya ini ada apa? Padahal baru kemarin aku diperlakukan manis oleh kak Alvin, dan baru tadi pagi aku menceritakan kejadian semalam pada Karin. Sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka,  kenapa mereka tega membohongiku? Dan kenapa aku merasa...dikhianati.
---
Hari ini aku berangkat sekolah lebih awal, dengan alasan ingin menghindari kak Alvin. Padahal terlihat jelas di wajahku bahwa aku sedang malas bersekolah. Kepalaku sedikit pusing, karena aku menangis semalaman. Tapi mataku tidak terlalu kelihatan sembab, karena tadi subuh aku mengompresnya dengan air hangat. Sampai akhirnya aku memasuki kelas, seseorang tersenyum dan menyapa ku.

“Haiiii Bunga, tumben dateng pagian nih” senang, pagi ini dia terlihat begitu senang.
“Gapapa lagi pengen aja, seneng banget nih kayaknya. Ada apa?” aku hanya bertanya sambil tersenyum tipis.
“Hahaha masasih? Engga ah biasa aja kali. Btw lesu banget sih neng”
“Lagi gaenak badan aja. Oh iya kemarin kamu kemana?”
“Ha? Hm, kan aku udah bilang mau bantu mama dirumah”  dia terlihat kikuk saat menjawab pertanyaanku, tapi aku mengabaikannya dan langsung menduduki bangku sambil menidurkan kepalaku diatas meja “Oh iya aku lupa”

Aku di perintah oleh guru fisika untuk membawa buku-buku tebal ini ke ruangannya, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundak ku.
“Hei, kamu kok tadi berangkat duluan? Ga hubungin aku lagi, kamu kenapa?” seorang laki-laki yang kemarin jalan dengan sahabatku sendiri.
“Iya kak maaf aku ga sempet sms, tadi ada urusan mendadak aja jadi aku harus dateng pagi-pagi”
“Oh gitu, kirain kenapa hehe” Hanya itu? Hah. Dia pun tidak ada niat sedikit pun untuk sekedar minta maaf karena kemarin sama sekali tidak memberiku kabar.
“Oh iya kak, kemarin sibuk banget ya urusannya? Sampe lupa ngasih kabar gitu hehe”
“Oh.. itu.. iya aku sibuk banget soalnya abis ada acara keluarga hehe. Maaf ya aku jadi lupa ngabarin kamu, kamu ga marah kan sayang?” Saudara? Sejak kapan Karin saudaraan sama kak Alvin ha-ha. Tak ingin berlama-lama dengannya aku pun segera pergi ke ruang guru “Kak aku duluan ya, ditunggu sama bu Hani nih” aku menyunggingkan senyum tipis kepadanya yang dibalas usapan kepala olehnya.
---
“Tega ya kamu rin sama aku, aku fikir kamu sahabat baik aku tapi ternyata kamu malah nusuk aku dari belakang” bulir-bulir air mata sukses menghiasi pipiku saat aku mengambil selembar foto yang terjatuh dari tas nya Karin. Foto seperti sepasang kekasih yang terlihat bahagia. Siapa lagi kalo bukan foto dia dengan kak Alvin.
“Engga bunga, jangan salah paham dulu. Aku enggak--“
“Enggak apa? Kamu mau bilang kalo foto ini ga sengaja ha? Udahlah rin, kamu fikir aku gatau kalau dua hari yang lalu kamu jalan sama kak Alvin? Kamu jahat rin sama aku”
“Iya emang aku jalan sama kak Alvin, terus kenapa? Emang cuma kamu doang yang bisa ngerasain seneng? Aku benci sama kamu, kamu selalu bisa dapetin apa yang aku mau. Kamu selalu bisa nyuri perhatian guru-guru ataupun temen-temen, kamu selalu menjadi juara kelas bahkan kebanggaan sekolah, kamu disenangi para cowo-cowo disini, dan asal kamu tau ya aku udah suka sama kak Alvin jauh sebelum kamu jadian sama dia. Aku cuma mau kak Alvin, apa aku salah? Dan kalau kamu tau, aku udah seminggu backstreet sama dia” Jleb! Semua perkataan yang diucapkan Karin benar-benar membuat hatiku mencelos. Aku menangis, sakit hati. Dan aku juga melihat dia...menangis.

“Ga nyangka ya, aku fikir kamu adalah satu-satunya teman terbaikku tapi ternyata kaya gitu. Kamu cuma nganggep aku saingan kamu aja? Kamu cuma pengen dapetin apa yang aku punya? Padahal aku tulus banget sahabatan sama kamu. Dan kalau aku bisa juga, aku akan kasih semua yang aku punya buat kamu kalau itu buat kamu seneng” kemudian aku membisikan telinganya “Terakhir, kenapa ga dari awal kamu bilang kalau kamu suka Alvin. Kalau aku tau kamu suka sama dia pasti aku ga akan nerima dia jadi pacarku. Karena aku gapernah mau liat sahabatku sendiri sakit hati” aku menjauhkan bibirku dari telinganya, kemudian tersenyum sambil menyeka air mata. Lalu pergi. Dia terdiam dan semakin menangis.

Aku berlari keluar kelas sambil menangis, tidak menyangka ternyata orang yang aku sayangi keduanya tega mengkhianatiku. Aku menghentikan langkah kaki ku. Aku benar-benar sakit hati. Kemudian seseorang memanggilku. Suara itu, aku kenal suara itu. Rasanya aku ingin sekali pergi dari tempat ini sekarang juga. 

“Bunga, kamu kenapa nangis? Kamu ada masalah? Atau kamu lagi sakit?” kak Alvin memegang pundak ku dari belakang kemudian memutar tubuhku agar aku berhadapan dengannya. Aku menghela nafas panjang.
“Aku gapapa kok kak, ohiya aku pengen ngomong sesuatu sama kaka”
“Ngomong apa? Kita duduk disana yuk, biar kamu ga cape berdiri terus” kak Alvin menunjuk bangku dekat lapangan basket.
“Gausah kak, aku ga lama kok. Aku cuma mau bilang, makasih ya kak Alvin selama dua bulan ini udah mau sayang sama aku”
“Loh iya sayang sama-sama tapi kok tumben banget kamu ngomong kaya gini, ada apa?”
“Gapapa, aku mau minta putus ya kak aku pikir buat apa kita lanjutin hubungan kita kalau kak Alvin aja udah punya cewe lain selain aku” ucapku tersenyum, mataku berkaca-kaca lagi.
“Jadi..kamu u..dah tau?” ucapnya kaget. “Maaf, aku ga bermaksud mau nyakitin kamu” lanjutmya sambil menggenggam tanganku. Aku melepaskan genggamannya perlahan kemudian membuka resleting tas ku dan mengambil sesuatu.
“Ga bermaksud nyakitin tapi kenyataannya sekarang aku sakit” lalu aku menyerahkan sesuatu yang baru saja ku ambil dari tas. “Ini buat kaka, dua hari yang lalu aku jalan dan aku liat barang ini. Terus aku inget kak Alvin mangkanya aku beli ini buat kaka” kak Alvin mengambil barang itu dari tanganku. “Oh iya, aku juga liat kaka sama Karin waktu itu, mesra banget” lagi-lagi aku memamerkan senyumku padanya. Senyum menyedihkan.
“Aku bisa jelasin semuanya kok, kamu jangan salah paham dulu. Aku gamau putus sama kamu, please kasih aku kesempatan” dia memelukku, akhirnya air mata yang dari tadi ku bendung jatuh juga. Aku menghela nafas lagi, kemudian melepaskan pelukannya.
“Maaf kak aku gabisa, semoga kakak langgeng sama Karin. Dan aku akan berusaha ikhlasin kakak buat dia. Aku pulang dulu ya” aku menatap matanya yang sedari tadi menatapku. Terlihat penyesalan diwajahnya, tetapi mau bagaimana lagi aku benar-benar ingin memutuskan hubunganku dengannya.
“Aku sayang banget sama kakak. Makasih juga kakak udah bisa bikin hati aku sakit kaya gini” kemudian aku berlari dengan berlinang air mata, tak peduli seberapa keras dia memanggil-manggil namaku ataupun dengan cepat mengejarku. Yang jelas aku ingin cepat-cepat hilang dari hadapannya.
---
Alvin memandangi barang yang diberikan oleh Bunga tadi siang, sebuah boneka beruang yang sedang memegang bola basket ditengahnya. Kemudian didalam perut boneka itu ada sebuah tombol yang bila dipencet keluar rekaman suara orang. Alvin berkali-kali memencet boneka itu “Hallo kak alvin ganteng, I love You” begitulah isi rekaman suara Bunga. Dia mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Baru menyesali kenapa dia tega mengkhianati hati ‘mantan’ kekasihnya itu. Padahal sedikitpun tidak pernah gadisnya itu melukai hatinya. Memang penyesalan selalu dating belakangan, dan saat ini dia benar-benar menyesal karena telah menyia-nyiakan gadis kecilnya itu.

by: Rexa~
#Cerpen


The Synopsis of Rapunzel

A woman, long barren, fell pregnant and passionately desired rampion (also known as rapunzel – a type of radish) that she and her husband caould see in a nearby walled garden. The owner, an enchantress, allowed the mother the rampion, provided she could take the child when it is born.

The beautiful Rapunzel is raised by the enchantress, who keeps her in a tower after she is 12 years old, which has no door or stairs. To get to her the enchantress calls

Rapunzel, Rapunzel,
Let down your hair to me”

Rapunzel’s lovelyl golden hair is twenty ells long, we are told. Even though confined, Rapunzel sings beautiful songs and is overheard by a passing prince. He copies the method by which the enchantress climbs into the tower and the two youngsters fall in love. When finally discovered by Dame Gothel, she cuts off all Rapunzel’s hair and banishes her to a desert far away. She then fools the prince and when he climbs up the hair the enchantress holds, she tells him mockingly he will never see Rapunzel again. In despair he leaps from the tower and loses his eyes in a thorn bush.
In misery he roams through the forest for some years surviving on fruits and berries until he finally comes to the desert where he hears his loved one singing. Seeing her blind beloved, she bursts into tears and cradling him, her tears fall on his eyes and once more he can see and delight in her beautiful golden hair and their two children.


Ketika Sahabat menjadi Cinta


Cinta tak dapat di pungkiri, datang kepada siapa, kapan dan dimana saja. Entah itu kepada teman, sahabat sekalipun musuh. Tak ada yang tahu mengapa cinta selalu datang tiba-tiba. Yang jelas merasakan jatuh cinta itu adalah suatu hal yang menyenangkan. Tanpa sengaja, kita pun selalu merasakan senyum yang ‘berbeda’ saat jatuh cinta.

“Hai, gue Icha. Salam kenal juga yah” ucapku yang baru saja diajak kenalan oleh seorang laki-laki di sebelahku yang bernama Fero.

Aku dan Fero adalah siswa baru SMA HARAPAN BANGSA. Saat ini, seluruh siswa sengaja dikumpulkan di aula untuk menyaksikan demo eskul yang akan ditampilkan oleh kakak-kakak kelas.

“Cha, kayaknya gue suka deh sama fero” bisik seorang gadis cantik dengan hiasan bandana merah yang di kenakan di rambut panjangnya, yang membuat dirinya semakin cantik. Ya, dia adalah Lala teman baruku di kelas. Dia juga ada di aula itu bersamaku dan dari tadi diam-diam terus memperhatikan Fero sambil senyum-senyum sendiri.

“haha lo serius? Baru aja diajak kenalan lo udah kepincut aja sama dia haha cie” candaku sambil menggoda Lala.

“apaan sih lo ah ssst berisik ntar dia denger, ah malu gue”

“Hahaha cie Lala cie”
---

Dua bulan sudah aku bersekolah di SMA baru, dan sudah dua bulan juga Fero menjadi teman baik untukku dan Lala. Ya, semenjak acara perkenalan pertama di aula itu kita memang lebih sering berkomunikasi dengannya. Alhasil, kita semakin dekat dan akrab hingga akhirnya kami bersahabat.

“Jadi, lo kapan mau nembak Lala?”

“kok lo tau? Dari siapa?” ucap Fero yang sedari tadi sedang sibuk dengan ponselnya.

“Hayooo, lagi sms-an sama Lala kan? Cieee” hari ini aku dan Fero sedang ada eskul di sekolah, memang kami berdua mengikuti ekskul yang sama. Tetapi, tidak dengan Lala

“Horror ya lo, pinter banget nebaknya” ucap Fero dengan heran “Tapi gue ragu, gue takut dia nolak kalau gue tembak” lanjutnya.

“Percaya sama gue, pasti lo bisa. Yaudah gue tunggu besok ya abis itu gue minta teraktiran hehehe”

“Yeee dasar lo ya” ucapnya sambil mengacak-ngacak rambutku.

Keesokan harinya aku mendesak Fero agar cepat-cepat mengutarakan perasaannya pada Lala, padahal saat itu Fero masih belum siap, tetapi mau tak mau dia tetap mengikuti apa kataku, ya daripada keduluan orang juga kan nanti nyesek hihi. Akhirnya semuanya berjalan lancar, Fero dan Lala sudah resmi pacaran. Mereka berlomba-lomba ingin aku mendengarkan semua isi hatinya yang sedang berbunga-bunga, hah senang jadinya melihat sahabat-sahabatku akhirnya berpacaran juga. Ehm, tetapi kenapa hatiku merasakan hal yang aneh. Seperti gelisah, entah apa itu aku tidak mengerti. Apa aku cemburu? Cemburu karena takut aku tidak bisa dekat lagi dengan Fero. Takut karena Fero nantinya akan lebih sering bersama dengan Lala dan jarang bermain lagi denganku. Ah, apasih aku ini. Aku tidak boleh berfikiran seperti itu, lagi pula ini terlalu berlebihan.

“Lo serius? Kok cepet bgt?” ucapku kaget, karena Lala ingin memutuskan hubungannya dengan Fero. Padahal baru dua minggu mereka menyandang status berpacaran, terlalu cepat memang.

“Gue ga cocok sama dia, ternyata dia lebih asik dijadiin temen daripada pacar” ucap Lala sambil menggigit roti tawarnya yang sudah dioleskan selai nuttela.

“Yaaah, sayang banget sih”

Entah harus kecewa atau senang aku mendengar hal ini, tetapi aku tau mungkin Fero akan galau kalau dia tau Lala akan memutuskan hubungan dengannya. Kebayang deh bagaimana kalau dia galau pasti memakan waktu berhari-hari dan selalu merepotkanku. Ini terbukti saat sebulan lalu dia ditolak oleh teman sekelasnya sebelum dia menyukai Lala. Dia curhat dengan keadaan muka yang menyedihkan, kusut gitu haha.  Akupun selalu memberinya nasehat ataupun saran agar dia tidak galau berlarut-larut. Sampai akhirnya, dia menyukai Lala yang sudah lebih dulu menyukainya. Dibandingkan dengan Lala memang aku lebih dekat dengan Fero. Maka dari itu aku sedikit tau hal-hal kecil tentangnya. 

Keesokan harinya..
“Cha, gue galau. Gue diputusin” benar kan dugaanku, muka Fero sudah seperti tumpukan baju-baju yang belum di setrika. Kusut banget.

“Bantu gue dong cha, kok lo diem aja sih. Lo kan temen deketnya bujuk Lala supaya dia nerima gue lagi”

Aku masih tetap diam. Bingung juga mau bantuin Fero bagaimana, padahal semalam aku bersih keras membujuk Lala supaya jangan memutuskan hubungannya dan menyarankan agar dia memikirkan hal ini lagi. Tetapi Lala tetap keukeuh dengan keputusannya, dan aku juga tidak berhak menentangnya. Bagaimanapun juga hati kan tidak bisa dipaksakan.

“Kalau bisa juga gue bantu Fer, tapi Lala nya nih. Yaudah sih move on aja, mumpung baru dua minggu ini pasti ga berat kok ngelupainnya” ucapku ngasal.

“Gampang banget ya ngomongnya” ucapnya sambil menoyor kepalaku.
“Ish, songong banget sih” ucapku kesal sambil menoyornya balik.

 Hari-haripun berlalu. Kami bertiga tetap masih bermain bersama, ya meskipun ada kecanggungan diantara mereka berdua. Tetapi, sesekali aku bertingkah agar mencairkan suasana yang begitu kaku. Sekaku mumi kalo lagi nari jaipong.

Dua bulan sudah berlalu, kini pertemanan kita semakin dekat. Fero dan Lala juga sudah tidak canggung lagi bila sedang berkumpul, tetapi... sekarang ada hal aneh yang mengganggu fikiranku. Tadi malam Fero menyatakan perasaanya padaku, yaampun aku harus apa?!

*Flashback on*
“Sorry Fer, gue gabisa. Lo tau kan Lala mantan lo? Dan kalian berdua adalah sahabat gue” jawabku membalas pesan yang di kirim olehnya.
“Tapi gue suka sama lo, gue juga gatau kenapa gue bisa suka sama lo”
“Sekali lagi sorry Fer, lebih baik kita bersahabat aja” kemudian aku mematikan ponselku dan mengakhiri obrolan dengannya.
*Flashback off*

Hari ini aku berangkat lebih awal ke sekolah, karena ingin menghindari bertemu degan Fero. Aku dan Lala memang tidak sekelas dengannya, dan setiap ingin memasuki kelas kami bertiga selalu berkumpul dulu di kantin. Saat aku ingin memasuki koridor sekolah, aku sedikit melirik kearah kantin. Syukurlah Fero belum datang.

Saat jam istirahat, Lala memaksa mengajakku ke kantin padahal aku sudah beralasan bahwa aku sedang tidak enak badan. Dia menempelkan punggung tangannya di keningku, tidak panas memang, huh. Aku mengerucutkan bibir, dia hanya tertawa penuh kemenangan.
Suasana di kantin terasa beda, sejak tadi Fero memperhatikanku tetapi aku selalu buang muka pura-pura tidak tahu. Sedangkan Lala sibuk curhat sendiri.

“Hallooo nona dan tuan sekaliaaan, kok pada diem aja sih. Bete banget dari tadi ngomong ga didengerin” ucap Lala sambil mencolek dagu-ku dan dagu-nya lalu melipat kedua tangannya didepan. Aku hanya diam dan memberikan cengiran yang-terlihat-memaksa agar Lala tidak curiga. Tetapi ternyata mata Lala asik memperhatikan mata Fero yang tidak berhenti memperhatikanku dan memperhatikan  gerak-gerikku yang mulai tidak nyaman.

“Hai, hallooo kalian lagi kenapa sih? Lagi berantem ya?” tanyanya sekali lagi, tapi aku langsung menyangkal.
“Engga ah, udah yuk masuk udah bel tuh. Fer, kita duluan ya mau ke toilet dulu hehehe” ucapku sebiasa mungkin. Dia hanya tersenyum dan mengacungkan jempol. Sedangkan Lala? Sudah pasang muka bete maksimal.

---

Sudah tiga hari Fero mengirimiku pesan dan sudah tiga hari juga dia berusaha ingin berbicara denganku tapi aku selalu mengabaikan pesannya dan terus menghindarinya. Lala yang menyadari tingkah laku ku dan dia akhirnya gemas juga. Dia tak tahan ingin menanyakan hal ini padaku. Pelajaran pertama pun sudah selesai.
“Sebenernya lo sama Fero kenapa sih? Kok udah tiga hari ini kaya ngejauh gitu?”
“Apaansih, orang ga kenapa-napa” lalu aku menyenderkan tubuhku di kursi dan menutupi muka ku dengan buku, pertanda pusing karena pagi-pagi sudah di suguhi rumus-rumus matematika saja.  
“Ga mungkin kalau ga kenapa-napa. Ayo sih cerita ah” dia masih tetap ingin tahu apa yang terjadi dengan kami, lalu ia mengambil buku yang ada di muka ku.
“Ck.. hm. Sebenernya ada yang pengen gue ceritain ke lo, tapi gue takut lo marah” aku mulai membenarkan posisi duduk ku dan mulai ingin cerita.
“Gue ditembak Fero “ dia menatapku kaget “Sorry ya La” lanjutku.
“Wah gila si Fero abis putus dari gue dia malah suka sama lo” dia geleng-geleng kepala “Sorry for what?” lanjutnya lagi.
“Ya sorry aja, gue jadi gaenak sama lo. Lo kan mantannya dia”
“Yaelah Cha hahaha, gapapa kok. Gue kan udah bilang kalau gue ga cocok sama dia, jadi santai aja kali. Kecuali kalau gue cinta banget sama mantan gue dan gue belum bisa move on baru deh lo yang gue cuekin haha”
“Ya cocok ga cocok tetep aja gue gaenak lah”
“Udah ah lo ginian aja diribetin, sampe diem-dieman tiga hari pula. Ih lebay, kalo lo juga suka gapapa lagi, terima aja” ucapnya sambil tersenyum pada ku.

---
Aku kembali memikirkan jawaban apa yang harus ku berikan padanya. Meskipun Lala mengizinkanku menerima dia, tetap saja aku tak enak. Terlebih juga apa rasanya berpacaran dengan sahabat sendiri. Tapi tak bisa dipungkiri, aku juga sedikit mempunyai perasaan padanya.
Aku merapihkan buku-buku ku yang tersisa di meja. Bel pulang sekolah telah berlalu, teman-teman kelasku juga sudah pulang. Kini di kelas hanya ada aku dan Lala.
“Cha, Fero tuh”
Aku melihat ke arah jendela, sudah ada Fero yang sedang berdadah-dadah ria kearah kami. Hari ini Fero akan meminta jawabannya padaku.
“Ikutin kata hati lo Cha, gue duluan. Goodluck!” ucap Lala sambil memegang pundak ku dan tersenyum.
“Thanks La” ucapku membalas senyumannya.
---
“Jadi gimana jawabannya Cha?”
 Aku terdiam dan memikirkan kata-kata Lala tadi, ya aku sudah mantap akan menjawab.
“Iya gue mau,tapi ada satu syarat”
Fero mengerutkan dahi “Apa syaratnya?”
“Meskipun lo dan gue nanti udah putus, kita harus tetep jadi sahabat ya. Karena dari awal, kita kan sahabatan dan gue gamau kalo nantinya kita malah jadi musuhan cuma gara-gara pacaran. Ok?”
“Siap bosss! Thanks ya Cha lo udah mau nerima gue”
“Sama-sama ya Fer”
Mereka pun akhirnya pulang dengan senyum yang mengembang di bibirnya masing-masing.