Universitas Gunadarma

Sabtu, 17 Januari 2015

Ketika Sahabat menjadi Cinta


Cinta tak dapat di pungkiri, datang kepada siapa, kapan dan dimana saja. Entah itu kepada teman, sahabat sekalipun musuh. Tak ada yang tahu mengapa cinta selalu datang tiba-tiba. Yang jelas merasakan jatuh cinta itu adalah suatu hal yang menyenangkan. Tanpa sengaja, kita pun selalu merasakan senyum yang ‘berbeda’ saat jatuh cinta.

“Hai, gue Icha. Salam kenal juga yah” ucapku yang baru saja diajak kenalan oleh seorang laki-laki di sebelahku yang bernama Fero.

Aku dan Fero adalah siswa baru SMA HARAPAN BANGSA. Saat ini, seluruh siswa sengaja dikumpulkan di aula untuk menyaksikan demo eskul yang akan ditampilkan oleh kakak-kakak kelas.

“Cha, kayaknya gue suka deh sama fero” bisik seorang gadis cantik dengan hiasan bandana merah yang di kenakan di rambut panjangnya, yang membuat dirinya semakin cantik. Ya, dia adalah Lala teman baruku di kelas. Dia juga ada di aula itu bersamaku dan dari tadi diam-diam terus memperhatikan Fero sambil senyum-senyum sendiri.

“haha lo serius? Baru aja diajak kenalan lo udah kepincut aja sama dia haha cie” candaku sambil menggoda Lala.

“apaan sih lo ah ssst berisik ntar dia denger, ah malu gue”

“Hahaha cie Lala cie”
---

Dua bulan sudah aku bersekolah di SMA baru, dan sudah dua bulan juga Fero menjadi teman baik untukku dan Lala. Ya, semenjak acara perkenalan pertama di aula itu kita memang lebih sering berkomunikasi dengannya. Alhasil, kita semakin dekat dan akrab hingga akhirnya kami bersahabat.

“Jadi, lo kapan mau nembak Lala?”

“kok lo tau? Dari siapa?” ucap Fero yang sedari tadi sedang sibuk dengan ponselnya.

“Hayooo, lagi sms-an sama Lala kan? Cieee” hari ini aku dan Fero sedang ada eskul di sekolah, memang kami berdua mengikuti ekskul yang sama. Tetapi, tidak dengan Lala

“Horror ya lo, pinter banget nebaknya” ucap Fero dengan heran “Tapi gue ragu, gue takut dia nolak kalau gue tembak” lanjutnya.

“Percaya sama gue, pasti lo bisa. Yaudah gue tunggu besok ya abis itu gue minta teraktiran hehehe”

“Yeee dasar lo ya” ucapnya sambil mengacak-ngacak rambutku.

Keesokan harinya aku mendesak Fero agar cepat-cepat mengutarakan perasaannya pada Lala, padahal saat itu Fero masih belum siap, tetapi mau tak mau dia tetap mengikuti apa kataku, ya daripada keduluan orang juga kan nanti nyesek hihi. Akhirnya semuanya berjalan lancar, Fero dan Lala sudah resmi pacaran. Mereka berlomba-lomba ingin aku mendengarkan semua isi hatinya yang sedang berbunga-bunga, hah senang jadinya melihat sahabat-sahabatku akhirnya berpacaran juga. Ehm, tetapi kenapa hatiku merasakan hal yang aneh. Seperti gelisah, entah apa itu aku tidak mengerti. Apa aku cemburu? Cemburu karena takut aku tidak bisa dekat lagi dengan Fero. Takut karena Fero nantinya akan lebih sering bersama dengan Lala dan jarang bermain lagi denganku. Ah, apasih aku ini. Aku tidak boleh berfikiran seperti itu, lagi pula ini terlalu berlebihan.

“Lo serius? Kok cepet bgt?” ucapku kaget, karena Lala ingin memutuskan hubungannya dengan Fero. Padahal baru dua minggu mereka menyandang status berpacaran, terlalu cepat memang.

“Gue ga cocok sama dia, ternyata dia lebih asik dijadiin temen daripada pacar” ucap Lala sambil menggigit roti tawarnya yang sudah dioleskan selai nuttela.

“Yaaah, sayang banget sih”

Entah harus kecewa atau senang aku mendengar hal ini, tetapi aku tau mungkin Fero akan galau kalau dia tau Lala akan memutuskan hubungan dengannya. Kebayang deh bagaimana kalau dia galau pasti memakan waktu berhari-hari dan selalu merepotkanku. Ini terbukti saat sebulan lalu dia ditolak oleh teman sekelasnya sebelum dia menyukai Lala. Dia curhat dengan keadaan muka yang menyedihkan, kusut gitu haha.  Akupun selalu memberinya nasehat ataupun saran agar dia tidak galau berlarut-larut. Sampai akhirnya, dia menyukai Lala yang sudah lebih dulu menyukainya. Dibandingkan dengan Lala memang aku lebih dekat dengan Fero. Maka dari itu aku sedikit tau hal-hal kecil tentangnya. 

Keesokan harinya..
“Cha, gue galau. Gue diputusin” benar kan dugaanku, muka Fero sudah seperti tumpukan baju-baju yang belum di setrika. Kusut banget.

“Bantu gue dong cha, kok lo diem aja sih. Lo kan temen deketnya bujuk Lala supaya dia nerima gue lagi”

Aku masih tetap diam. Bingung juga mau bantuin Fero bagaimana, padahal semalam aku bersih keras membujuk Lala supaya jangan memutuskan hubungannya dan menyarankan agar dia memikirkan hal ini lagi. Tetapi Lala tetap keukeuh dengan keputusannya, dan aku juga tidak berhak menentangnya. Bagaimanapun juga hati kan tidak bisa dipaksakan.

“Kalau bisa juga gue bantu Fer, tapi Lala nya nih. Yaudah sih move on aja, mumpung baru dua minggu ini pasti ga berat kok ngelupainnya” ucapku ngasal.

“Gampang banget ya ngomongnya” ucapnya sambil menoyor kepalaku.
“Ish, songong banget sih” ucapku kesal sambil menoyornya balik.

 Hari-haripun berlalu. Kami bertiga tetap masih bermain bersama, ya meskipun ada kecanggungan diantara mereka berdua. Tetapi, sesekali aku bertingkah agar mencairkan suasana yang begitu kaku. Sekaku mumi kalo lagi nari jaipong.

Dua bulan sudah berlalu, kini pertemanan kita semakin dekat. Fero dan Lala juga sudah tidak canggung lagi bila sedang berkumpul, tetapi... sekarang ada hal aneh yang mengganggu fikiranku. Tadi malam Fero menyatakan perasaanya padaku, yaampun aku harus apa?!

*Flashback on*
“Sorry Fer, gue gabisa. Lo tau kan Lala mantan lo? Dan kalian berdua adalah sahabat gue” jawabku membalas pesan yang di kirim olehnya.
“Tapi gue suka sama lo, gue juga gatau kenapa gue bisa suka sama lo”
“Sekali lagi sorry Fer, lebih baik kita bersahabat aja” kemudian aku mematikan ponselku dan mengakhiri obrolan dengannya.
*Flashback off*

Hari ini aku berangkat lebih awal ke sekolah, karena ingin menghindari bertemu degan Fero. Aku dan Lala memang tidak sekelas dengannya, dan setiap ingin memasuki kelas kami bertiga selalu berkumpul dulu di kantin. Saat aku ingin memasuki koridor sekolah, aku sedikit melirik kearah kantin. Syukurlah Fero belum datang.

Saat jam istirahat, Lala memaksa mengajakku ke kantin padahal aku sudah beralasan bahwa aku sedang tidak enak badan. Dia menempelkan punggung tangannya di keningku, tidak panas memang, huh. Aku mengerucutkan bibir, dia hanya tertawa penuh kemenangan.
Suasana di kantin terasa beda, sejak tadi Fero memperhatikanku tetapi aku selalu buang muka pura-pura tidak tahu. Sedangkan Lala sibuk curhat sendiri.

“Hallooo nona dan tuan sekaliaaan, kok pada diem aja sih. Bete banget dari tadi ngomong ga didengerin” ucap Lala sambil mencolek dagu-ku dan dagu-nya lalu melipat kedua tangannya didepan. Aku hanya diam dan memberikan cengiran yang-terlihat-memaksa agar Lala tidak curiga. Tetapi ternyata mata Lala asik memperhatikan mata Fero yang tidak berhenti memperhatikanku dan memperhatikan  gerak-gerikku yang mulai tidak nyaman.

“Hai, hallooo kalian lagi kenapa sih? Lagi berantem ya?” tanyanya sekali lagi, tapi aku langsung menyangkal.
“Engga ah, udah yuk masuk udah bel tuh. Fer, kita duluan ya mau ke toilet dulu hehehe” ucapku sebiasa mungkin. Dia hanya tersenyum dan mengacungkan jempol. Sedangkan Lala? Sudah pasang muka bete maksimal.

---

Sudah tiga hari Fero mengirimiku pesan dan sudah tiga hari juga dia berusaha ingin berbicara denganku tapi aku selalu mengabaikan pesannya dan terus menghindarinya. Lala yang menyadari tingkah laku ku dan dia akhirnya gemas juga. Dia tak tahan ingin menanyakan hal ini padaku. Pelajaran pertama pun sudah selesai.
“Sebenernya lo sama Fero kenapa sih? Kok udah tiga hari ini kaya ngejauh gitu?”
“Apaansih, orang ga kenapa-napa” lalu aku menyenderkan tubuhku di kursi dan menutupi muka ku dengan buku, pertanda pusing karena pagi-pagi sudah di suguhi rumus-rumus matematika saja.  
“Ga mungkin kalau ga kenapa-napa. Ayo sih cerita ah” dia masih tetap ingin tahu apa yang terjadi dengan kami, lalu ia mengambil buku yang ada di muka ku.
“Ck.. hm. Sebenernya ada yang pengen gue ceritain ke lo, tapi gue takut lo marah” aku mulai membenarkan posisi duduk ku dan mulai ingin cerita.
“Gue ditembak Fero “ dia menatapku kaget “Sorry ya La” lanjutku.
“Wah gila si Fero abis putus dari gue dia malah suka sama lo” dia geleng-geleng kepala “Sorry for what?” lanjutnya lagi.
“Ya sorry aja, gue jadi gaenak sama lo. Lo kan mantannya dia”
“Yaelah Cha hahaha, gapapa kok. Gue kan udah bilang kalau gue ga cocok sama dia, jadi santai aja kali. Kecuali kalau gue cinta banget sama mantan gue dan gue belum bisa move on baru deh lo yang gue cuekin haha”
“Ya cocok ga cocok tetep aja gue gaenak lah”
“Udah ah lo ginian aja diribetin, sampe diem-dieman tiga hari pula. Ih lebay, kalo lo juga suka gapapa lagi, terima aja” ucapnya sambil tersenyum pada ku.

---
Aku kembali memikirkan jawaban apa yang harus ku berikan padanya. Meskipun Lala mengizinkanku menerima dia, tetap saja aku tak enak. Terlebih juga apa rasanya berpacaran dengan sahabat sendiri. Tapi tak bisa dipungkiri, aku juga sedikit mempunyai perasaan padanya.
Aku merapihkan buku-buku ku yang tersisa di meja. Bel pulang sekolah telah berlalu, teman-teman kelasku juga sudah pulang. Kini di kelas hanya ada aku dan Lala.
“Cha, Fero tuh”
Aku melihat ke arah jendela, sudah ada Fero yang sedang berdadah-dadah ria kearah kami. Hari ini Fero akan meminta jawabannya padaku.
“Ikutin kata hati lo Cha, gue duluan. Goodluck!” ucap Lala sambil memegang pundak ku dan tersenyum.
“Thanks La” ucapku membalas senyumannya.
---
“Jadi gimana jawabannya Cha?”
 Aku terdiam dan memikirkan kata-kata Lala tadi, ya aku sudah mantap akan menjawab.
“Iya gue mau,tapi ada satu syarat”
Fero mengerutkan dahi “Apa syaratnya?”
“Meskipun lo dan gue nanti udah putus, kita harus tetep jadi sahabat ya. Karena dari awal, kita kan sahabatan dan gue gamau kalo nantinya kita malah jadi musuhan cuma gara-gara pacaran. Ok?”
“Siap bosss! Thanks ya Cha lo udah mau nerima gue”
“Sama-sama ya Fer”
Mereka pun akhirnya pulang dengan senyum yang mengembang di bibirnya masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar