Cinta tak dapat di pungkiri, datang kepada siapa, kapan dan dimana saja. Entah itu kepada teman, sahabat sekalipun musuh. Tak ada yang tahu mengapa cinta selalu datang tiba-tiba. Yang jelas merasakan jatuh cinta itu adalah suatu hal yang menyenangkan. Tanpa sengaja, kita pun selalu merasakan senyum yang ‘berbeda’ saat jatuh cinta.
“Hai, gue
Icha. Salam kenal juga yah” ucapku yang baru saja diajak kenalan oleh seorang
laki-laki di sebelahku yang bernama Fero.
Aku dan
Fero adalah siswa baru SMA HARAPAN BANGSA. Saat ini, seluruh siswa sengaja
dikumpulkan di aula untuk menyaksikan demo eskul yang akan ditampilkan oleh
kakak-kakak kelas.
“Cha,
kayaknya gue suka deh sama fero” bisik seorang gadis cantik dengan hiasan
bandana merah yang di kenakan di rambut panjangnya, yang membuat dirinya semakin
cantik. Ya, dia adalah Lala teman baruku di kelas. Dia juga ada di aula itu
bersamaku dan dari tadi diam-diam terus memperhatikan Fero sambil senyum-senyum
sendiri.
“haha lo serius?
Baru aja diajak kenalan lo udah kepincut aja sama dia haha cie” candaku sambil
menggoda Lala.
“apaan sih
lo ah ssst berisik ntar dia denger, ah malu gue”
“Hahaha cie
Lala cie”
---
Dua bulan sudah
aku bersekolah di SMA baru, dan sudah dua bulan juga Fero menjadi teman baik untukku
dan Lala. Ya, semenjak acara perkenalan pertama di aula itu kita memang lebih
sering berkomunikasi dengannya. Alhasil, kita semakin dekat dan akrab hingga
akhirnya kami bersahabat.
“Jadi, lo
kapan mau nembak Lala?”
“kok lo
tau? Dari siapa?” ucap Fero yang sedari tadi sedang sibuk dengan ponselnya.
“Hayooo,
lagi sms-an sama Lala kan? Cieee” hari ini aku dan Fero sedang ada eskul di
sekolah, memang kami berdua mengikuti ekskul yang sama. Tetapi, tidak dengan
Lala
“Horror ya
lo, pinter banget nebaknya” ucap Fero dengan heran “Tapi gue ragu, gue takut
dia nolak kalau gue tembak” lanjutnya.
“Percaya
sama gue, pasti lo bisa. Yaudah gue tunggu besok ya abis itu gue minta
teraktiran hehehe”
“Yeee dasar
lo ya” ucapnya sambil mengacak-ngacak rambutku.
Keesokan
harinya aku mendesak Fero agar cepat-cepat mengutarakan perasaannya pada Lala,
padahal saat itu Fero masih belum siap, tetapi mau tak mau dia tetap mengikuti
apa kataku, ya daripada keduluan orang juga kan nanti nyesek hihi. Akhirnya
semuanya berjalan lancar, Fero dan Lala sudah resmi pacaran. Mereka
berlomba-lomba ingin aku mendengarkan semua isi hatinya yang sedang
berbunga-bunga, hah senang jadinya melihat sahabat-sahabatku akhirnya
berpacaran juga. Ehm, tetapi kenapa hatiku merasakan hal yang aneh. Seperti
gelisah, entah apa itu aku tidak mengerti. Apa aku cemburu? Cemburu karena
takut aku tidak bisa dekat lagi dengan Fero. Takut karena Fero nantinya akan lebih
sering bersama dengan Lala dan jarang bermain lagi denganku. Ah, apasih aku
ini. Aku tidak boleh berfikiran seperti itu, lagi pula ini terlalu berlebihan.
“Lo serius?
Kok cepet bgt?” ucapku kaget, karena Lala ingin memutuskan hubungannya dengan
Fero. Padahal baru dua minggu mereka menyandang status berpacaran, terlalu
cepat memang.
“Gue ga
cocok sama dia, ternyata dia lebih asik dijadiin temen daripada pacar” ucap
Lala sambil menggigit roti tawarnya yang sudah dioleskan selai nuttela.
“Yaaah,
sayang banget sih”
Entah harus
kecewa atau senang aku mendengar hal ini, tetapi aku tau mungkin Fero akan
galau kalau dia tau Lala akan memutuskan hubungan dengannya. Kebayang deh bagaimana
kalau dia galau pasti memakan waktu berhari-hari dan selalu merepotkanku. Ini
terbukti saat sebulan lalu dia ditolak oleh teman sekelasnya sebelum dia
menyukai Lala. Dia curhat dengan keadaan muka yang menyedihkan, kusut gitu
haha. Akupun selalu memberinya nasehat
ataupun saran agar dia tidak galau berlarut-larut. Sampai akhirnya, dia
menyukai Lala yang sudah lebih dulu menyukainya. Dibandingkan dengan Lala
memang aku lebih dekat dengan Fero. Maka dari itu aku sedikit tau hal-hal kecil
tentangnya.
Keesokan
harinya..
“Cha, gue
galau. Gue diputusin” benar kan dugaanku, muka Fero sudah seperti tumpukan
baju-baju yang belum di setrika. Kusut banget.
“Bantu gue
dong cha, kok lo diem aja sih. Lo kan temen deketnya bujuk Lala supaya dia nerima gue
lagi”
Aku masih
tetap diam. Bingung juga mau bantuin Fero bagaimana, padahal semalam
aku bersih keras membujuk Lala supaya jangan memutuskan hubungannya dan
menyarankan agar dia memikirkan hal ini lagi. Tetapi Lala tetap keukeuh dengan
keputusannya, dan aku juga tidak berhak menentangnya. Bagaimanapun juga hati
kan tidak bisa dipaksakan.
“Kalau bisa
juga gue bantu Fer, tapi Lala nya nih. Yaudah sih move on aja, mumpung baru dua
minggu ini pasti ga berat kok ngelupainnya” ucapku ngasal.
“Gampang
banget ya ngomongnya” ucapnya sambil menoyor kepalaku.
“Ish,
songong banget sih” ucapku kesal sambil menoyornya balik.
Hari-haripun berlalu. Kami bertiga tetap masih
bermain bersama, ya meskipun ada kecanggungan diantara mereka berdua. Tetapi,
sesekali aku bertingkah agar mencairkan suasana yang begitu kaku. Sekaku mumi
kalo lagi nari jaipong.
Dua bulan
sudah berlalu, kini pertemanan kita semakin dekat. Fero dan Lala juga sudah
tidak canggung lagi bila sedang berkumpul, tetapi... sekarang ada hal aneh yang
mengganggu fikiranku. Tadi malam Fero menyatakan perasaanya padaku, yaampun aku
harus apa?!
*Flashback
on*
“Sorry Fer,
gue gabisa. Lo tau kan Lala mantan lo? Dan kalian berdua adalah sahabat gue”
jawabku membalas pesan yang di kirim olehnya.
“Tapi gue
suka sama lo, gue juga gatau kenapa gue bisa suka sama lo”
“Sekali
lagi sorry Fer, lebih baik kita bersahabat aja” kemudian aku mematikan ponselku
dan mengakhiri obrolan dengannya.
*Flashback
off*
Hari ini
aku berangkat lebih awal ke sekolah, karena ingin menghindari bertemu degan
Fero. Aku dan Lala memang tidak sekelas dengannya, dan setiap ingin memasuki
kelas kami bertiga selalu berkumpul dulu di kantin. Saat aku ingin memasuki
koridor sekolah,
aku sedikit melirik kearah kantin. Syukurlah Fero belum datang.
Saat jam
istirahat, Lala memaksa mengajakku ke kantin padahal aku sudah beralasan bahwa
aku sedang tidak enak badan. Dia menempelkan punggung tangannya di keningku,
tidak panas memang, huh. Aku mengerucutkan bibir, dia hanya tertawa penuh
kemenangan.
Suasana di
kantin terasa beda, sejak tadi Fero memperhatikanku tetapi aku selalu buang muka pura-pura
tidak tahu. Sedangkan Lala sibuk curhat sendiri.
“Hallooo
nona dan tuan sekaliaaan, kok pada diem aja sih. Bete banget dari tadi ngomong
ga didengerin” ucap Lala sambil mencolek dagu-ku dan dagu-nya lalu melipat
kedua tangannya didepan. Aku hanya diam dan memberikan cengiran
yang-terlihat-memaksa agar Lala tidak curiga. Tetapi ternyata mata Lala
asik
memperhatikan mata Fero yang tidak berhenti memperhatikanku dan memperhatikan
gerak-gerikku yang mulai tidak nyaman.
“Hai,
hallooo kalian lagi kenapa sih? Lagi berantem ya?” tanyanya sekali lagi, tapi
aku langsung menyangkal.
“Engga ah,
udah yuk masuk udah bel tuh. Fer, kita duluan ya mau ke toilet dulu hehehe”
ucapku sebiasa mungkin. Dia hanya tersenyum dan mengacungkan jempol. Sedangkan
Lala? Sudah pasang muka bete maksimal.
---
Sudah tiga
hari Fero mengirimiku pesan dan sudah tiga hari juga dia berusaha ingin
berbicara denganku tapi aku selalu mengabaikan pesannya dan terus
menghindarinya. Lala yang menyadari tingkah laku ku dan dia akhirnya gemas
juga. Dia tak tahan ingin menanyakan hal ini padaku. Pelajaran pertama pun
sudah selesai.
“Sebenernya
lo sama Fero kenapa sih? Kok udah tiga hari ini kaya ngejauh gitu?”
“Apaansih,
orang ga kenapa-napa” lalu aku menyenderkan tubuhku di kursi dan menutupi muka
ku dengan buku, pertanda pusing karena pagi-pagi sudah di suguhi rumus-rumus
matematika saja.
“Ga mungkin
kalau ga kenapa-napa. Ayo sih cerita ah” dia masih tetap ingin tahu apa yang
terjadi dengan kami, lalu ia mengambil buku yang ada di muka ku.
“Ck.. hm.
Sebenernya ada yang pengen gue ceritain ke lo, tapi gue takut lo marah” aku mulai
membenarkan posisi duduk ku dan mulai ingin cerita.
“Gue
ditembak Fero “ dia menatapku kaget “Sorry ya La” lanjutku.
“Wah gila
si Fero abis putus dari gue dia malah suka sama lo” dia geleng-geleng kepala
“Sorry for what?” lanjutnya lagi.
“Ya sorry
aja, gue jadi gaenak sama lo. Lo kan mantannya dia”
“Yaelah Cha
hahaha, gapapa kok. Gue kan udah bilang kalau gue ga cocok sama dia, jadi
santai aja kali. Kecuali kalau gue cinta banget sama mantan gue dan gue belum
bisa move on baru deh lo yang gue cuekin haha”
“Ya cocok
ga cocok tetep aja gue gaenak lah”
“Udah ah lo
ginian aja diribetin, sampe diem-dieman tiga hari pula. Ih lebay, kalo lo juga
suka gapapa lagi, terima aja” ucapnya sambil tersenyum pada ku.
---
Aku kembali
memikirkan jawaban apa yang harus ku berikan padanya. Meskipun Lala
mengizinkanku menerima dia, tetap saja aku tak enak. Terlebih juga apa rasanya
berpacaran dengan sahabat sendiri. Tapi tak bisa dipungkiri, aku juga sedikit
mempunyai perasaan padanya.
Aku
merapihkan buku-buku ku yang tersisa di meja. Bel pulang sekolah telah berlalu,
teman-teman kelasku juga sudah pulang. Kini di kelas hanya ada aku dan Lala.
“Cha, Fero
tuh”
Aku melihat
ke arah jendela, sudah ada Fero yang sedang berdadah-dadah ria kearah kami.
Hari ini Fero akan meminta jawabannya padaku.
“Ikutin
kata hati lo Cha, gue duluan. Goodluck!” ucap Lala sambil memegang pundak ku
dan tersenyum.
“Thanks La”
ucapku membalas senyumannya.
---
“Jadi
gimana jawabannya Cha?”
Aku terdiam dan memikirkan kata-kata Lala
tadi, ya aku sudah mantap akan menjawab.
“Iya gue
mau,tapi ada satu syarat”
Fero mengerutkan dahi “Apa syaratnya?”
“Meskipun
lo dan gue nanti udah putus, kita harus tetep jadi sahabat ya. Karena dari awal, kita
kan sahabatan dan gue gamau kalo nantinya kita malah jadi musuhan cuma gara-gara pacaran. Ok?”
“Siap bosss! Thanks ya Cha lo udah mau nerima gue”
“Sama-sama ya Fer”
Mereka pun
akhirnya pulang dengan senyum yang mengembang di bibirnya masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar