Universitas Gunadarma

Sabtu, 17 Januari 2015

Hadiah Ulangtahun Untuk Gadis Kecilku

Di sebuah rumah yang tidak begitu besar,  terdapat seorang gadis yang sedari tadi tak kuasa menghentikan isakan tangisnya. Gadis itu terdiam menatap kosong tubuh wanita tua yang saat ini sedang terbujur kaku dengan balutan kain kafan dan kapas-kapas yang menutupi setiap lubang di bagian tubuhnya. 
Dia teringat kejadian sebulan yang lalu saat ibunya belum meninggalkan dunia “Bu, mulai besok jangan dateng ke sekolah ku lagi ya. Aku tuh malu kalau teman-teman ku liat ibu tuh ibu aku.” Bila dia tau, betapa sakit hati ibunya saat anaknya dengan tega mengatakan hal tersebut padanya. Begitu hina kah ibu dimatanya? Sampai-sampai mengakui ibunya saja dia tidak mau.

Dua minggu lagi, gadis yang bernama Dea itu akan berulang tahun yang ke 13. Ibunya ingin sekali memberikan hadiah istimewa untuk anak tercintanya. Tetapi, beliau tidak memiliki banyak uang untuk membelikannya hadiah tersebut. Segala cara dilakukannya agar beliau bisa mendapatkan uang dan membelikan gadis kecilnya itu sebuah hadiah. Karena kesehariannya hanya menjadi tukang kue keliling, beliau merasa uang hasil jualannya tidak akan cukup. Akhirnya, beliau menjadi tukang cuci di setiap rumah sebagai kerja sampingannya. Satu rumah beliau diberi upah dua puluh ribu. Dan sehari beliau mampu mencuci untuk tiga rumah, jadi uang yang di dapatkannya selama sehari enam puluh ribu. Lumayan pikirnya. Selama seminggu beliau hanya bekerja lima hari, karena sabtu minggu adalah waktunya beliau mengistirahatkan diri.

6 hari sebelum hari ulangtaun anak tercintanya..

Hari ini beliau merasakan tubuhnya tidak enak badan, sejak kemarin malam beliau merasakan sakit kepala hebat yang tak kunjung henti. Padahal beliau sudah meminum obat warung yang dibelinya tadi malam. Hari ini beliau memutuskan untuk libur bekerja dulu.

5 hari sebelum hari ulangtaun anak tercintanya..

“Dea, maaf ibu bangun kesiangan. Kamu sudah makan? Mau ibu bikinkan telur dadar?” ucap ibunya yang sudah merasa lebih sehat dibandingkan dengan kemarin.
“Gausah bu, aku bosan. Telur dadar lagi telur dadar lagi. Aku tuh butuh perbaikan gizi bu.” Ucapnya ketus, meskipun kelakuannya seperti itu tetapi beliau tetap dan akan selalu menyayangi gadis kecilnya itu. Beliau pun memberikan uang sepuluh ribu kepada anaknya, Dea langsung mengambilnya dan kemudian pergi tanpa menyalami ibunya. Ibu pun menatap nanar anaknya yang sudah menghilang dari hadapannya.

2 hari sebelum ulangtaun anak tercintanya..

Ini hari terakhir beliau bekerja, karena sudah merasa fisiknya tidak kuat lagi melakukan pekerjaan-pekerjaan ini. Tetapi saat beliau sedang bekerja, sakit kepala hebat datang kembali menghampirinya. Terlihat hidungnya yang sudah mengeluarkan banyak darah, hanya pening yang dirasakannya dan pandangannya mulai kabur. Kemudian pingsan.
Beruntung majikannya yang satu ini baik hati membawa beliau ke rumah sakit dan membiayai pengobatannya hari itu juga. Kakinya lemas, tubuhnya bagaikan tak bertulang saat dokter menjelaskan penyakit apa yang diderita beliau saat ini. Kanker darah stadium akhir. Hanya satu yang ada di pikirannya, gadis kecilnya itu. Beliau tidak ingin gadis kecilnya nanti akan hidup sebatang kara, karena sejak Dea masih kecil ayahnya telah meninggalkan dunia terlebih dahulu, dan hanya ibu nya lah satu-satunya keluarga yang dia punya. Sungguh beliau masih belum siap melihat gadis kecilnya akan hidup sendirian. 

Sehari sebelum ulangtaun anak tercintanya..

Dengan semangat beliau melangkahkan kaki ke pasar, dia tidak sabar melihat gadis kecilnya itu tersenyum bahagia saat ibunya membawakan hadiah untuknya dan kemudian memeluknya dengan rasa sayang. Akhirnya, hadiah yang akan diberikannya terbeli juga.

Tepat hari ulangtahun anak tercintanya..

Dea terbangun dari tidurnya, hari ini hari minggu jadi dia tidak bersekolah. Dea melangkahkan kaki kearah dapur yang bisa dibilang kecil itu. Dia membuka meja makan yang ternyata isinya sudah ada kue ulangtaun berukuran mini dengan hiasan keju coklat diatasnya. Dea baru ingat bahwa hari ini adalah hari ulangtaunnya, dia tersentuh melihat kue itu karena sudah lama Dea tidak pernah dibelikan kue saat dia ulangtahun, tak sadar matanya pun berkaca-kaca. Kemudian dia celingak-celinguk mencari keberadaan ibunya yang tidak ada di tempat. Mungkin di kamar, pikirnya. Akhirnya dia berjalan kea rah kamar ibunya karena dia ingin mengatakan terimakasih kepada ibunya.

“Ibuuuuuuuuu” tangisan itu meledak saat dirinya melihat ibu yang selama ini mengurusnya, tertidur lemas dengan masih menggunakan mukena yang sudah dibanjiri oleh darah yang keluar dari mulutnya. Dia memeluk ibunya, dan menyadari bahwa ibunya sudah tidak bernafas lagi. Ia tidak menyangka ibunya akan meninggalkannya secepat ini, padahal ia belum sempat meminta maaf atas perlakuannya selama ini dan bilang terimakasih atas hadiah yang sudah beliau berikan. Ia menangis sejadi-jadinya.

Dan hari ini adalah hari pemakaman ibunya sekaligus hari dimana ibunya juga melahirkan anak yang sangat disayanginya itu. Dea masih menatap kosong jenazah ibunya itu kemudian beralih menatap secarik kertas dan benda kecil yang digenggamnya. Benda itu adalah sebuah liontin yang berbandulkan hati, indah sekali. Di belakang liontin itu terukir kecil nama yang bertuliskan ‘gadis kecilku’. Dia semakin terisak, menangisi apa yang baru saja diberikan ibu untuknya. Kemudian dia mengalihkan matanya pada kertas yang digenggam sebelah kirinya, kemudian membaca isi kertas tersebut.

Pagi gadis kecilku,
Selamat ulangtahun ya nak
Semoga kamu panjang umur dan
selalu diberikan kesehatan oleh Allah
Sebenarnya ibu ingin sekali
Ngucapin ulangtahun langsung ke kamu
Tapi waktu ibu ke kamar kamu
Kamu terlihat begitu nyenyak
Ibu jadi tidak tega membangunkan gadis kecil ibu
Sepertinya ibu tidak sempat nih mengucapkan ulangtahun langsung ke kamu
Soalnya badan ibu berasa capek sekali
Jadi ibu mau tidur dan istirahat dulu ya nak
Ibu selalu menyayangi mu
Selamat ulang tahun Dea
                                                Dari ibu mu yang sangat menyayangi mu


Dea tak kuasa menahan tangisnya, saat ini dia benar-benar menyesali semuanya. Dia menyia-nyiakan orang yang selama ini dengan tulus menyayanginya. Andai waktu bisa diulang, dia akan memperbaiki semuanya yang telah ia lakukan. Termasuk memuliakan ibunya.

#Cerpen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar