Di
sebuah rumah yang tidak begitu besar,
terdapat seorang gadis yang sedari tadi tak kuasa menghentikan isakan
tangisnya. Gadis itu terdiam menatap kosong tubuh wanita tua yang saat ini
sedang terbujur kaku dengan balutan kain kafan dan kapas-kapas yang menutupi
setiap lubang di bagian tubuhnya.
Dia teringat kejadian sebulan yang lalu saat ibunya
belum meninggalkan dunia “Bu, mulai besok jangan dateng ke sekolah ku lagi ya.
Aku tuh malu kalau teman-teman ku liat ibu tuh ibu aku.” Bila dia tau, betapa
sakit hati ibunya saat anaknya dengan tega mengatakan hal tersebut padanya.
Begitu hina kah ibu dimatanya? Sampai-sampai mengakui ibunya saja dia tidak
mau.
Dua
minggu lagi, gadis yang bernama Dea itu akan berulang tahun yang ke 13. Ibunya ingin
sekali memberikan hadiah istimewa untuk anak tercintanya. Tetapi, beliau tidak
memiliki banyak uang untuk membelikannya hadiah tersebut. Segala cara
dilakukannya agar beliau bisa mendapatkan uang dan membelikan gadis kecilnya
itu sebuah hadiah. Karena kesehariannya hanya menjadi tukang kue keliling,
beliau merasa uang hasil jualannya tidak akan cukup. Akhirnya, beliau menjadi
tukang cuci di setiap rumah sebagai kerja sampingannya. Satu rumah beliau
diberi upah dua puluh ribu. Dan sehari beliau mampu mencuci untuk tiga rumah,
jadi uang yang di dapatkannya selama sehari enam puluh ribu. Lumayan pikirnya.
Selama seminggu beliau hanya bekerja lima hari, karena sabtu minggu adalah
waktunya beliau mengistirahatkan diri.
6
hari sebelum hari ulangtaun anak tercintanya..
Hari
ini beliau merasakan tubuhnya tidak enak badan, sejak kemarin malam beliau
merasakan sakit kepala hebat yang tak kunjung henti. Padahal beliau sudah
meminum obat warung yang dibelinya tadi malam. Hari ini beliau memutuskan untuk
libur bekerja dulu.
5
hari sebelum hari ulangtaun anak tercintanya..
“Dea,
maaf ibu bangun kesiangan. Kamu sudah makan? Mau ibu bikinkan telur dadar?”
ucap ibunya yang sudah merasa lebih sehat dibandingkan dengan kemarin.
“Gausah
bu, aku bosan. Telur dadar lagi telur dadar lagi. Aku tuh butuh perbaikan gizi
bu.” Ucapnya ketus, meskipun kelakuannya seperti itu tetapi beliau tetap dan
akan selalu menyayangi gadis kecilnya itu. Beliau pun memberikan uang sepuluh
ribu kepada anaknya, Dea langsung mengambilnya dan kemudian pergi tanpa
menyalami ibunya. Ibu pun menatap nanar anaknya yang sudah menghilang dari
hadapannya.
2
hari sebelum ulangtaun anak tercintanya..
Ini
hari terakhir beliau bekerja, karena sudah merasa fisiknya tidak kuat lagi
melakukan pekerjaan-pekerjaan ini. Tetapi saat beliau sedang bekerja, sakit
kepala hebat datang kembali menghampirinya. Terlihat hidungnya yang sudah
mengeluarkan banyak darah, hanya pening yang dirasakannya dan pandangannya
mulai kabur. Kemudian pingsan.
Beruntung
majikannya yang satu ini baik hati membawa beliau ke rumah sakit dan membiayai
pengobatannya hari itu juga. Kakinya lemas, tubuhnya bagaikan tak bertulang
saat dokter menjelaskan penyakit apa yang diderita beliau saat ini. Kanker
darah stadium akhir. Hanya satu yang ada di pikirannya, gadis kecilnya itu. Beliau
tidak ingin gadis kecilnya nanti akan hidup sebatang kara, karena sejak Dea masih kecil ayahnya telah meninggalkan dunia terlebih dahulu, dan hanya ibu nya lah satu-satunya keluarga yang dia punya. Sungguh beliau masih belum siap
melihat gadis kecilnya akan hidup sendirian.
Sehari
sebelum ulangtaun anak tercintanya..
Dengan
semangat beliau melangkahkan kaki ke pasar, dia tidak sabar melihat gadis
kecilnya itu tersenyum bahagia saat ibunya membawakan hadiah untuknya dan
kemudian memeluknya dengan rasa sayang. Akhirnya, hadiah yang akan diberikannya
terbeli juga.
Tepat
hari ulangtahun anak tercintanya..
Dea
terbangun dari tidurnya, hari ini hari minggu jadi dia tidak bersekolah. Dea
melangkahkan kaki kearah dapur yang bisa dibilang kecil itu. Dia membuka meja
makan yang ternyata isinya sudah ada kue ulangtaun berukuran mini dengan hiasan
keju coklat diatasnya. Dea baru ingat bahwa hari ini adalah hari ulangtaunnya, dia
tersentuh melihat kue itu karena sudah lama Dea tidak pernah dibelikan kue saat
dia ulangtahun, tak sadar matanya pun berkaca-kaca. Kemudian dia
celingak-celinguk mencari keberadaan ibunya yang tidak ada di tempat. Mungkin
di kamar, pikirnya. Akhirnya dia berjalan kea rah kamar ibunya karena dia ingin
mengatakan terimakasih kepada ibunya.
“Ibuuuuuuuuu”
tangisan itu meledak saat dirinya melihat ibu yang selama ini mengurusnya,
tertidur lemas dengan masih menggunakan mukena yang sudah dibanjiri oleh darah yang
keluar dari mulutnya. Dia memeluk ibunya, dan menyadari bahwa ibunya sudah
tidak bernafas lagi. Ia tidak menyangka ibunya akan meninggalkannya secepat
ini, padahal ia belum sempat meminta maaf atas perlakuannya selama ini dan
bilang terimakasih atas hadiah yang sudah beliau berikan. Ia menangis
sejadi-jadinya.
Dan
hari ini adalah hari pemakaman ibunya sekaligus hari dimana ibunya juga
melahirkan anak yang sangat disayanginya itu. Dea masih menatap kosong jenazah
ibunya itu kemudian beralih menatap secarik kertas dan benda kecil yang digenggamnya.
Benda itu adalah sebuah liontin yang berbandulkan hati, indah sekali. Di
belakang liontin itu terukir kecil nama yang bertuliskan ‘gadis kecilku’. Dia
semakin terisak, menangisi apa yang baru saja diberikan ibu untuknya. Kemudian
dia mengalihkan matanya pada kertas yang digenggam sebelah kirinya, kemudian
membaca isi kertas tersebut.
Pagi gadis kecilku,
Selamat ulangtahun ya
nak
Semoga kamu panjang
umur dan
selalu diberikan
kesehatan oleh Allah
Sebenarnya ibu ingin
sekali
Ngucapin ulangtahun
langsung ke kamu
Tapi waktu ibu ke kamar
kamu
Kamu terlihat begitu
nyenyak
Ibu jadi tidak tega
membangunkan gadis kecil ibu
Sepertinya ibu tidak
sempat nih mengucapkan ulangtahun langsung ke kamu
Soalnya badan ibu
berasa capek sekali
Jadi ibu mau tidur dan
istirahat dulu ya nak
Ibu selalu menyayangi
mu
Selamat ulang tahun Dea
Dari ibu mu yang sangat menyayangi mu
Dea
tak kuasa menahan tangisnya, saat ini dia benar-benar menyesali semuanya. Dia menyia-nyiakan
orang yang selama ini dengan tulus menyayanginya. Andai waktu bisa diulang, dia
akan memperbaiki semuanya yang telah ia lakukan. Termasuk memuliakan ibunya.
#Cerpen
Tidak ada komentar:
Posting Komentar