Perbandingan
Ekonomi Indonesia dengan Malaysia
Struktur
ekonomi Indonesia dianggap memiliki sejumlah kemiripan dengan Malaysia. Salah
satu yang paling kentara adalah sama-sama bertumpu pada komoditas sebagai
pendorong ekspor. Kedua negara juga sedang dihantam masalah perlambatan ekonomi
dunia.
Sejumlah
indikator ekonomi Indonesia ternyata masih lebih baik dibandingkan Malaysia,
beberapa tahun belakangan ini. Hal itu ditunjukkan oleh beberapa parameter
penting seperti cadangan devisa, transaksi berjalan, serta nilai rasio utang
terhadap PDB (debt to GDP ratio). Apalagi, saat
ini pemerintahan Najib Razak sedang diguncang skandal korupsi dan situasi
ekonomi di negeri jiran disebut-sebut sudah mengkhawatirkan.
1. Cadangan devisa
Per Juli 2015, cadangan devisa Malaysia
anjlok drastis 27,36 persen dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya,
seiring aksi intervensi yang ditempuh bank sentral negeri ini
saat mencoba menghentikan ambruknya nilai ringgit. Secara year to date, ringgit Malaysia melemah lebih dari 19
persen terhadap dolar Amerika -- terimbas rencana bank sentral Amerika, The
Fed, menaikkan suku bunga acuannya.
Sementara itu, cadangan devisa
Indonesia pada periode yang sama "hanya" turun 2,82 persen. Walaupun
secara year to date rupiah juga melemah sekitar 14
persen terhadap dolar Amerika, jika dolar semakin menguat, amunisi Indonesia
untuk melakukan intervensi lebih banyak dibandingkan Malaysia.
Jika kita menyusuri data cadangan devisa lebih panjang
lagi, semenjak krisis 2008, maka terlihat bahwa cadangan devisa Indonesia
tumbuh lebih signifikan. Sedangkan, pertumbuhan cadangan devisa Malaysia,
semenjak ambrol di tahun 2008, terus bergerak mendatar.
Kuatnya posisi cadangan devisa Indonesia ini terutama
didorong oleh dana investasi yang masih mengalir masuk ke Indonesia. Badan
Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat investasi Penanaman Modal Asing
(PMA) dan Dalam Negeri (PMDN) sepanjang semester I 2015 masing-masing
bertumbuh 16,1 dan 17,4 persen.
2. Neraca transaksi berjalan
Sejak krisis 1998, rasio transaksi
berjalan terhadap GDP (Gross Domestic Product) Malaysia selalu surplus dan
berada di atas Indonesia. Ini karena sekitar 80 persen ekonomi Malaysia
ditopang oleh ekspor. Akan tetapi, sejak tahun
2009 angka surplus itu menyusut secaa tajam, dari 18 persen menjadi
hanya 2,74 persen per Juli 2015. Kemerosotan ini akibat melemahnya harga
komoditas, terutama CPO, seiring merosotnya harga minyak dunia hingga ke
level $50 per barel.
Anjloknya angka surplus transaksi berjalan ini menjadi
penyebab tekanan penguatan dolar Amerika terhadap ringgit Malaysia jadi lebih
berat dibandingkan tekanan terhadap mata uang lain di Asia Tenggara.
Ambruknya harga komoditas sebetulnya juga turut
menekan transaksi berjalan Indonesia. Bahkan, pada kuartal III 2013 rasionya mengalami
defisit hingga 3,62 persen. Seiring langkah pemerintah mengetatkan kebijakan
moneter, berangsur-angsur angka defisit turun menjadi hanya 2,48 persen
per Juni 2015.
Menurut analisis Bareksa, defisit transaksi berjalan di Indonesia
juga diakibatkan oleh struktur ekonomi yang ditopang konsumsi
domestik, berbeda dengan Malaysia yang mengandalkan ekspor.
Ini ada efek positif dan
negatif. Tingginya konsumsi domestik di Indonesia memberikan efek positif
di tengah ekonomi dunia yang melemah. Ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh.
Yang negatif, karena sebagian besar konsumsi ini juga bertumpu pada
produk-produk yang memiliki kandungan impor tinggi, maka tingginya
konsumsi itu juga otomatis mendongkrak impor, yang pada gilirannya
menggenjot angka inflasi.
Sementara itu, perekonomian Malaysia yang ditopang
ekspor, sangat bergantung pada kondisi eksternal yang berada di luar kendali
mereka. Artinya, dalam situasi global yang tidak menentu, risiko transaksi
berjalan Malaysia lebih tinggi ketimbang Indonesia.
3. Rasio Utang terhadap PDB
Sejak dipimpin Perdana Menteri Malaysia Najib Razak
pada awal 2009, utang Malaysia menumpuk -- tercermin dari meningkatnya rasio
utang terhadap PDB (debt to GDP ratio) Malaysia menjadi 52 persen, dari
sebelumnya 40 persen. Naiknya utang Malaysia ini mengkhawatirkan, karena tidak
diiringi kenaikan pendapatan (PDB).
Kenaikan utang ini menyebabkan tekanan bagi Malaysia
untuk membayar utang jangka pendek dan bunganya menjadi semakin berat. Hal ini
turut menggerus cadangan devisa Malaysia, apalagi di tengah terus
merosotnya nilai tukar ringgit.
Sebaliknya, debt to
GDP ratio Indonesia justru menurun, dari kisaran 30 persen di
tahun 2009 menjadi hanya 22,96 persen di tahun 2013. Peningkatan GDP Indonesia
akibat arus masuk investasi menjadi faktor pendorong turunnya rasio
tersebut. Tetapi, sejak tahun 2014, rasio ini mulai kembali naik akibat
pelemahan ekonomi, kenaikan utang, serta melebarnya defisit fiskal guna
membiayai pembangunan infrastruktur.
Walaupun begitu berbeda dengan
Malaysia, rasio utang terhadap PDB Indonesia sampai kuartal
I 2015 masih terjaga pada level 25 persen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar